Kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba-lomba meraih apa yang disebut ”sukses”, meskipun harus menabrak rambu-rambu agama. Menurut kebanyakan manusia, kesuksesan sejati adalah limpahan harta, popularitas, dan kedudukan, yang harus diraih dengan segala cara.
Agama Islam sendiri mengajarkan bahwa tolok ukur keberhasilan bukanlah ukuran dunia, tetapi sejauh mana seorang hamba berpegang teguh kepada tauhid dan ittiba’ (mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ) dalam seluruh aspek kehidupannya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Hud: 15–16)
Kesuksesan itu bukan seperti Qarun, yang Allah binasakan karena kesombongannya terhadap harta.
“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’ Tidakkah ia tahu bahwa sesungguhnya Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta?…”
(QS. Al-Qashash: 78)
Demikian pula Fir’aun yang merasa dirinya penguasa mutlak, justru kekuasaannya menjadi sebab kebinasaan abadi.
Dari kisah Qarun dan Fir’aun bisa kita ambil pelajaran, bahwa kebanggaan atas dunia tanpa iman hanya mendatangkan murka Allah.
Bukankah kita melihat banyak orang yang katanya sukses berakhir di penjara karena korupsi, suap, dan pelanggaran hukum? Sering kali kesuksesan dunia membawa kepada ujub (kagum pada diri sendiri), kibr (sombong), dan ghurur (tertipu) dengan gemerlap dunia.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Di antara hukuman terbesar adalah Allah menjadikan seorang hamba sibuk dengan dunia dan lalai dari akhirat.”
Tak jarang pula, orang yang hidup bergelimang materi justru hatinya kosong, jiwanya hampa, rumah tangganya berantakan, bahkan tak bisa tidur tenang. Jika benar kesuksesan dunia itu primadona, semestinya ia menghadirkan ketenangan hati, bukan kegelisahan yang tak berujung.
Kesuksesan yang hakiki adalah ketika harta, jabatan, dan kenikmatan dunia menjadi alat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda:
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rizki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya.”
(HR. Muslim no. 1054)
Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:
“Zuhud itu bukan berarti engkau haramkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, tetapi zuhud itu lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu.”
Kesuksesan dalam Agama Islam yang mulia ini adalah kebersihan aqidah, keteguhan ittiba’, keluasan ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh yang membawa seorang hamba semakin takut kepada Allah dan semakin mencintai akhirat.
Maka, harta itu bukanlah kutukan jika ia menjadi sarana taat dan ketaqwaan. Bahkan ia akan menjadi bekal terbaik yang menyelamatkan di akhirat bila digunakan di jalan yang diridhai-Nya.
Sukses yang hakiki bukan sekadar banyaknya pujian dan kekayaan, tetapi ketika setiap nikmat dunia menjadi sebab seorang hamba menapaki pintu surga Allah dengan selamat.
Wallohualam bishowab
Semarang, 16 Juli 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan