Kalau kamu suka durian, tak perlu punya kebun durian.
Karena nikmat itu letaknya pada batas, bukan pada keberlimpahan.
Orang yang punya kebun durian bisa makan setiap hari. Tapi justru karena setiap hari, rasa istimewanya perlahan memudar. Durian yang kemarin terasa surga, hari ini jadi terasa biasa saja.
Siapa yang paling menikmati malam minggu?
Bukan mereka yang setiap hari libur tanpa pekerjaan.
Justru mereka yang lima hari bekerja penuh, lalu menemukan malam minggu sebagai hadiah.
Siapa yang paling bahagia saat hujan turun?
Bukan orang yang setiap hari melihat hujan dari jendela rumah.
Tapi petani yang menunggu tanahnya basah setelah kemarau panjang.
Siapa yang paling menghargai semangkuk mie rebus?
Bukan orang yang tiap hari makan berlimpah.
Tapi pendaki gunung yang baru turun dari jalur panjang, lalu menemukan semangkuk mie rebus di warung kaki lima terasa seperti makanan bintang lima.
Dan siapa yang paling menghargai pelukan orang tua?
Bukan mereka yang tiap hari bertemu, lalu menganggapnya hal biasa.
Tapi mereka yang sudah kehilangan ayah atau ibu, dan baru sadar bahwa waktu bersama ternyata begitu singkat.Kalau hari ini kamu masih punya ayah yang menegurmu saat pulang larut malam, atau ibu yang mengingatkanmu sarapan, itu adalah nikmat.
Jangan tunggu sampai kursi di ruang tamu itu kosong selamanya, baru kamu sadar bahwa dulu kamu duduk bersama ‘dua malaikat’ yang paling tulus mencintaimu.
Hidup itu indah karena ada batasnya.
Hidup bermakna karena ada kematian.
Kangen terasa manis karena ada perpisahan.
Dan sepotong durian terasa lezat karena tidak datang setiap hari.
Kalau hari ini kamu merasa kekurangan, merasa terbatas, merasa tak punya apa-apa, bisa jadi sebenarnya kamu punya sesuatu yang lebih mahal daripada semua kepemilikan: rasa menghargai.
Karena saat kita memiliki sesuatu tanpa batas, kita sering kehilangan rasa.
Dan saat rasa itu hilang, kita tak lagi menyadari betapa berharganya yang kita punya.
Maka, syukurilah batas itu.
Nikmatilah jeda, syukuri jarak, rayakan momen yang datang sesekali.
Sebab di situlah letak manisnya hidup.
Kalau semua bisa kita miliki setiap waktu, maka tak ada lagi yang pantas dinanti.
Dan tanpa penantian, nikmat itu perlahan mati.
Wallohualam bishowab
Semarang, 31 Juli 2025
Ide tulisan dari vanshopi dan disempurnakan bersama ChatGPT