SHALAT ITU BERAT, KECUALI BAGI ORANG YANG KHUSYU’
Allah Ta’ala berfirman:
{ وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ }
Dan minta tolonglah kepada Allah dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya shalat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’
[Surat Al-Baqarah: 45]
﴿وَإِنَّهَا﴾ أي: الصلاة ﴿لَكَبِيرَةٌ﴾ أي: شاقة ﴿إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ﴾ فإنها سهلة عليهم خفيفة؛ لأن الخشوع، وخشية الله، ورجاء ما عنده يوجب له فعلها، منشرحا صدره لترقبه للثواب، وخشيته من العقاب، بخلاف من لم يكن كذلك، فإنه لا داعي له يدعوه إليها، وإذا فعلها صارت من أثقل الأشياء عليه.
Maksudnya: shalat itu memang berat dan sulit, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, maka shalat itu menjadi mudah dan ringan bagi mereka.
Karena kekhusyukan, rasa takut kepada Allah, dan harapan terhadap pahala di sisi-Nya, menjadikan mereka terdorong untuk melaksanakan shalat dengan dada yang lapang, karena mereka mengharapkan pahala dan takut terhadap siksa.
Berbeda halnya dengan orang yang tidak memiliki sifat-sifat itu, maka tidak ada yang mendorongnya untuk shalat, dan bila ia pun melakukannya, shalat menjadi sesuatu yang paling berat baginya.
Tafsir As-Sa’di, Surat Al Baqoroh 45.
Sumber : http://t.me/ForumSalafyPurbalingga
KEKUATAN HAKIKI DI HADAPAN SHALAT
Manusia memiliki fisik yang kuat, bisa berlari, bekerja keras, dan mengangkat beban berat. Namun, ketika adzan berkumandang, banyak yang merasa berat untuk berdiri menunaikan shalat. Inilah kelemahan hakiki yang disebut sebagai kelemahan iman, bukan sekadar kelemahan tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan fisik tanpa kekuatan iman akan sia-sia.
Shalat adalah pembeda antara Muslim dan kafir. Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat. Artinya, sebesar apa pun seseorang berusaha melatih tubuh agar sehat dan kuat, jika ia tidak mampu berdiri untuk shalat, maka kekuatan itu belum bernilai di sisi Allah.
Tubuh manusia, betapapun kuatnya di dunia, tidak akan mampu menahan siksaan neraka yang sangat pedih. Karena itu, orang yang beriman seharusnya menjadikan shalat sebagai benteng perlindungan dari azab.
Shalat terasa berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Yaitu orang-orang yang tundukan hatinya dan memiliki rasa takut kepada Allah yang tampak pada gerakan tubuh. Kekhusyukan bukan hanya konsentrasi dalam bacaan, tetapi juga merendahkan diri sepenuhnya di hadapan Allah. Shalat adalah sumber kekuatan menghadapi ujian dan penolong dalam kehidupan.
Jadi, kekuatan sejati bukanlah otot yang kokoh atau tubuh yang bugar, melainkan kekuatan hati untuk tunduk kepada Allah melalui shalat. Tubuh yang kuat tetapi enggan shalat hanyalah kesia-siaan, sementara tubuh yang lemah tetapi tetap menjaga shalat adalah bukti kekuatan iman yang hakiki.
Wallohualam bishowab
Semarang, 13 September 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan