TAPI LUPA MEMPERBAIKI DIRI
Setiap orang tua tentu mendambakan lahirnya anak-anak yang shalih dan shalihah. Anak yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, serta menjadi penyejuk hati dan penolong di dunia maupun di akhirat. Namun sering kali harapan itu tidak sejalan dengan usaha yang dilakukan oleh orang tuanya.
Bagaimana mungkin seorang ibu berharap memiliki anak shalihah, sementara dirinya masih tenggelam dalam kesenangan menonton film berjam-jam, lalai dari dzikir dan tilawah? Bagaimana seorang ayah ingin putranya kelak kuat dalam ketaatan, sementara dirinya masih sibuk dengan game, malas menuntut ilmu, dan terbiasa menunda-nunda shalat?
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Kebanyakan kerusakan anak datangnya dari orang tua, dari kelalaian mereka, dari meninggalkan kewajiban mereka, dan dari kesibukan mereka dengan urusan dunia.”
Seorang anak meniru lebih cepat daripada mendengar nasihat. Bila orang tuanya disiplin dalam ibadah, anak pun akan terbiasa. Bila orang tuanya malas, maka anak pun akan mencontoh hal yang sama. Maka, jangan berharap anak menjadi rajin shalat sementara orang tuanya sering menunda shalat.
“Kebanyakan anak-anak rusak adalah karena orang tuanya menyia-nyiakan mereka. Mereka lalai mendidik anak-anak mereka dalam kewajiban agama dan sunnah Nabi. Mereka hanya memperhatikan dunia anak, tetapi melalaikan agamanya. Maka anak-anak pun tumbuh di atas kelalaian itu.”
Inilah realita yang banyak kita saksikan.
• Seorang ibu ingin anak perempuannya menutup aurat dengan sempurna, tetapi dirinya masih sibuk mengikuti gaya hidup yang jauh dari syariat.
• Seorang ayah ingin anak lelakinya rajin shalat berjamaah, tetapi dirinya lebih sering sibuk dengan game atau pekerjaan dunia hingga melalaikan panggilan adzan.
• Keduanya ingin anaknya cinta ilmu agama, tetapi mereka sendiri jarang menghadiri majelis ilmu dan lebih suka menghabiskan waktu dengan urusan duniawi.
Anak-anak adalah cermin diri kita. Apa yang kita tanam, itulah yang akan tumbuh. Maka jika ingin anak-anak shalih, perbaikilah diri kita lebih dahulu.
• Bila ibu ingin putrinya rajin membaca Al-Qur’an, hendaknya ia sendiri lebih dahulu berinteraksi dengan mushaf setiap hari.
• Bila ayah ingin putranya kuat menjaga shalat, hendaknya ia sendiri tidak pernah meremehkan shalat berjamaah di masjid.
• Bila orang tua ingin anaknya cinta ilmu agama, hendaknya mereka sendiri menyisihkan waktu untuk menghadiri majelis ilmu, meskipun lelah dan sibuk dengan pekerjaan dunia.
Anak shalih bukan sekadar doa, tapi juga buah dari kesungguhan mendidik dan memberi teladan. Jika orang tua masih lalai, maka jangan salahkan anak ketika ia tumbuh jauh dari agama.
Mari kita mulai dari diri kita, memperbaiki ibadah kita, menahan diri dari kelalaian dunia, dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Wahai ayah, wahai ibu…, jangan berharap pohon akan berbuah manis jika bibitnya rusak dan tanahnya gersang. Jangan berharap anak menjadi shalih bila orang tuanya sendiri jauh dari ketaatan.
Mari kita mulai dengan taubat, memperbaiki ibadah, menahan diri dari kelalaian dunia, dan bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Semoga Allah menjadikan anak-anak kita shalih dan shalihah, sebagai penyejuk mata dan penolong kita di akhirat.
Wallohualam bishowab
Semarang, 18 September 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan