Sering kita dengar ungkapan: “Wanita tidak suka pria miskin.” Namun jika kita melihat lebih dalam, sebenarnya bukan itu inti masalahnya.
Wanita shalihah tidak menolak kemiskinan. Yang mereka tolak adalah ketidakseriusan, kemalasan, dan ketidaksiapan seorang pria untuk memikul amanah sebagai pemimpin rumah tangga. Karena dalam Islam, kemuliaan bukan ditentukan oleh harta, tetapi oleh ketaatan, kerja keras, dan tanggung jawab.
Allah Ta’ala berfirman, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita…” (QS. An-Nisā’: 34)
Maka wanita secara fitrah ingin pria yang siap memikul amanah ini. Bukan harus kaya, tetapi siap memimpin dan bekerja. Wanita mencari pria yang mampu memberi nafkah bukan karena “matre”, tetapi karena itu hak syar’i yang Allah tetapkan.
Wanita shalihah tidak menuntut kemewahan, tetapi mereka ingin pria yang tidak malas, tidak menunda tanggung jawab, punya arah hidup, dan mau berjuang.
Wanita menghargai pria yang bergerak, bukan yang menunggu belas kasihan. Wanita tidak menolak pria miskin. Wanita menolak pria yang tidak punya semangat hidup.
Kita tahu bahwa di dunia itu ada dua jenis kefakiran,
1. Fakir karena takdir, tapi ia berusaha dan sabar
Ini mulia di sisi Allah.
2. Fakir karena malas, tidak mau belajar, tidak mau bekerja
Ini tercela menurut Al-Qur’an dan Sunnah.
Wanita shalihah sangat menghargai pria yang sederhana namun pekerja keras, tapi mereka akan menjauh dari pria yang tidak punya rencana hidup, tidak mencari ilmu dan keterampilan, tidak menghormati tanggung jawab, menggantungkan hidup pada orang lain serta pria yang suka menyalahkan keadaan.
Ingatlah bahwa kemalasan itu adalah awal kehancuran rumah tangga.
Islam Mengajarkan Laki-Laki untuk Menjadi Penanggung Jawab, Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.” (Muttafaqun ‘alaih)
Pria yang baik bukan harus kaya, tapi harus siap menanggung amanah yang Allah berikan. Wanita tidak menolak kekurangan duniawi, tapi mereka menolak ketidakdewasaan. Wanita tidak menuntut kemewahan, tapi mereka menuntut tanggung jawab, karena itu syariat.
Pada hakikatnya…
Wanita tidak menolak pria miskin.
Wanita menolak pria yang tidak BERJUANG.
Karena semua wanita itu ingin rasa aman, kepastian, ingin punya imam yang bisa memimpin, ingin suaminya mempunyai pundak yang bisa diandalkan, bukan menjadi beban tambahan dalam hidupnya
Wanita shalihah lebih memilih pria yang sederhana namun berusaha keras, daripada pria kaya raya namun lalai dan tidak bertakwa. Karena dalam Agama Islam, kemuliaan seseorang adalah pada agama dan akhlaknya.
Dalam Islam, HARGA dan KEMULIAAN laki-laki itu ada pada KERJA KERASNYA, kemuliaan seorang laki-laki tidak diukur dari banyaknya uang, namun dari kesungguhan, kerja keras, dan usahanya untuk menanggung amanah.
Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan terbaik. Beliau bekerja keras sejak kecil, mengembala kambing, kemudian berdagang. Tidak ada rasa malu untuk bekerja apa pun, selama halal. Ini menunjukkan bahwa harga seorang pria ada pada usahanya, bukan pada warisannya, bukan pada fasilitasnya, apalagi pada kemalasannya.
“Jika laki-laki tidak bekerja, maka hilang wibawanya di hadapan keluarganya.”
Karena itu, wanita sangat menghargai pria yang bangun lebih awal, mencari nafkah dengan halal, punya prinsip bekerja, tidak hidup santai tanpa arah, dan tidak membiarkan wanita menanggung beban yang menjadi tugasnya.
Bukan soal kaya atau miskin, tapi apakah ia punya harga diri sebagai laki-laki, dan harga itu adalah kerja.
Allah tidak memerintahkan laki-laki untuk kaya, tapi Allah memerintahkan laki-laki untuk menafkahi dan memimpin. Menelantarkan bukan hanya tidak memberi nafkah, juga tidak berusaha untuk bisa menafkahi. Itulah sebabnya wanita tidak suka pria yang tidak berjuang, karena laki-laki seperti itu tidak menjalankan perannya menurut syariat.
JADI,
✔ Islam tidak mengukur kemuliaan lelaki dari jumlah hartanya, tetapi dari kerja keras, amanah, dan tanggung jawabnya.
✔ Wanita tidak menolak kemiskinan, tapi mereka menolak laki-laki yang hilang harga dirinya karena malas.
✔ Lelaki yang bekerja, meski rezekinya sedikit, lebih terhormat daripada lelaki yang tidak bekerja, meski hidupnya dipenuhi fasilitas.
✔ Harga seorang pria bukan di dompetnya, tetapi di usaha dan perjuangannya.
Agama Islam memerintahkan laki-laki untuk berusaha, untuk memberi nafkah, untuk memimpin, untuk bertanggung jawab, dan untuk menjadi sebaik-baik penolong bagi keluarganya. Bahkan jika hartanya sedikit, selama ia bertakwa dan bersungguh-sungguh, Allah akan mencukupinya.
Wallohualam bishowab
Semarang, 18 November 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan