2 PERKARA YANG MENYEDIHKAN

Ketika melihat sebuah jenazah diusung menuju masjid, hampir semua hati akan tersentuh. Seakan Allah sedang mengingatkan kita bahwa suatu hari nanti, giliran kita pun akan berada di tempat itu.

Namun, ada dua keadaan yang begitu menyedihkan.

Yang pertama, seorang lelaki yang selama hidupnya hampir tidak pernah memakmurkan masjid. Adzan berkumandang lima kali sehari, tetapi kakinya jarang melangkah memenuhi panggilan Rabb-nya. Hingga akhirnya, ia datang ke masjid untuk pertama kalinya… bukan sebagai orang yang shalat, melainkan sebagai jenazah yang dishalatkan.

Yang kedua, seorang perempuan yang sepanjang hidupnya enggan menutup aurat sebagaimana diperintahkan Allah. Berbagai alasan dikemukakan, berbagai kesempatan ditunda. Hingga akhirnya, aurat itu tertutup sempurna… ketika tubuhnya telah dibungkus kain kafan.

Sungguh, ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Karena kita tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupan seseorang. Bisa jadi orang yang hari ini jauh dari ketaatan, Allah berikan hidayah sebelum wafatnya. Dan bisa jadi orang yang hari ini tampak saleh, justru diuji di akhir hayatnya.

Tulisan ini adalah ajakan untuk bermuhasabah, bukan untuk menunjuk kesalahan orang lain.

Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda,

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”
(HR. At-Tirmidzi, hasan).

Maka sebelum orang lain memandikan jasad kita, marilah kita membersihkan hati kita.

Sebelum orang lain mengafani tubuh kita, marilah kita tutupi aurat kita karena Allah.

Sebelum orang lain menyalatkan jenazah kita di masjid, marilah kita biasakan melangkahkan kaki ke masjid selama kita masih diberi kesehatan.

Dan sebelum nama kita hanya tinggal kenangan, marilah kita memperbanyak amal yang akan terus hidup di sisi Allah.

Yang lebih menggetarkan lagi adalah ketika kita melihat anak-anak kita tumbuh besar.

Sebagai orang tua, sering kali kita begitu sibuk mempersiapkan masa depan dunia mereka. Kita ingin mereka menjadi dokter, guru, pengusaha, atau memiliki kehidupan yang mapan. Itu semua adalah harapan yang baik.

Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kita mengajarkan anak laki-laki kita untuk mencintai masjid sebelum ia dewasa?

Sudahkah kita mendidik anak perempuan kita agar bangga menjaga hijab dan menutup aurat karena mencari ridha Allah, bukan sekadar mengikuti budaya atau tren?

Karena kelak, jabatan tidak akan menemani mereka di alam kubur. Harta pun tidak akan menyelamatkan mereka. Yang akan menerangi kubur mereka hanyalah iman dan amal saleh.

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini mengingatkan bahwa tugas orang tua bukan hanya memberi makan dan pendidikan dunia, tetapi juga membimbing keluarga menuju keselamatan akhirat.

Semoga Allah menjadikan rumah-rumah kita dipenuhi dengan anak-anak yang mencintai shalat berjamaah, para pemuda yang merindukan masjid, dan para muslimah yang menjaga kehormatan dirinya karena Allah.

Dan semoga ketika ajal menjemput, kita tidak baru mulai taat di atas ranjang kematian, tetapi telah lama berusaha berjalan di atas jalan yang Allah ridai.

Ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan beriman, istiqamah di atas sunnah Nabi-Mu ﷺ, serta kumpulkan kami bersama orang-orang saleh di surga-Mu. Aamiin.

Wallohualam bishowab
Semarang, 23 Juli 2026
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan