MENGAPA KEHIDUPANKU TERASA BEGITU SEMPIT?

Pernahkah kita merasa lelah, gelisah, dan sulit tenang, padahal berbagai keinginan dunia sudah tercapai? Mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: sudahkah kita memperbaiki hubungan dengan Allah, Dzat yang menggenggam hati kita?

Pagi kita disibukkan pekerjaan, petang kita sibuk beristirahat. Zikir pagi dan petang terlewat, mushaf jarang dibuka, majelis ilmu jarang didatangi, dan doa sering baru dipanjatkan saat kesulitan datang. Lalu kita bertanya, “Mengapa hidupku terasa sempit?” Pertanyaan itu layak kita arahkan lebih dulu kepada diri sendiri. Bukan untuk menuduh bahwa setiap kesulitan adalah hukuman, melainkan untuk mengingatkan bahwa mungkin ada hubungan dengan Allah yang perlu diperbaiki.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Menurut Ibnu Katsir rahimahullah, orang yang berpaling dari petunjuk Allah bisa mengalami kesempitan hidup meskipun bergelimang nikmat dunia, karena hatinya tidak merasakan ketenangan yang lahir dari iman. Betapa banyak orang berumah megah dan berpenghasilan melimpah, tetapi hatinya tak pernah merasa cukup. Sebaliknya, ada hamba yang hidup sederhana dan sedang diuji, tetapi Allah karuniakan hati yang tenang.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Al-Bukhari no. 6407)

Catatan penting: meninggalkan sebagian amalan sunnah tidak otomatis menjadikan seseorang berpaling dari peringatan Allah, dan kesempitan hidup tidak selalu berarti iman yang kurang. Para nabi dan orang saleh pun diuji dengan ujian berat yang justru mengangkat derajat mereka. Maka kita memahami ayat berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salafush Shalih, bukan semata perasaan atau keadaan dunia.

Maka mulailah dari sekarang:

•	Jangan menunggu hidup tenang untuk mendekat kepada Allah.
•	Jangan menunggu punya waktu luang untuk membaca Al-Qur'an; sisihkan dari kesibukan.
•	Jangan menunggu musibah untuk memperbanyak doa.
•	Jangan menunggu usia senja untuk menghadiri majelis ilmu.

Mulailah dari amalan kecil, lalu jaga dengan istiqamah.

Islam tidak menyuruh kita meninggalkan dunia. Kita tetap bekerja, mencari rezeki halal, dan menafkahi keluarga. Namun jangan sampai kesibukan itu melupakan tujuan penciptaan kita: beribadah kepada Allah. Dan luruskan niat: zikir, doa, dan Al-Qur’an memang boleh kita harapkan untuk melapangkan hidup, tetapi tujuan yang lebih agung adalah ikhlas karena Allah, mengharap ridha dan ampunan-Nya, hingga kelak memandang wajah-Nya yang mulia.

Barangkali kita terlalu banyak memohon agar dunia dimudahkan, tetapi terlalu sedikit memohon agar hati diteguhkan di atas ketaatan. Ingatlah, ketenangan bukan berarti hidup tanpa ujian, melainkan hati yang tetap bersandar kepada Allah di tengah ujian.

Semoga Allah mengampuni kelalaian kita, melembutkan hati kita, menjadikan Al-Qur’an penyejuk dada, dan meneguhkan kita di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai pemahaman Salafush Shalih, hingga Allah mempertemukan kita dengan ridha-Nya dan surga-Nya. Aamiin

Wallohualam bishowab
Semarang, 14 Oktober 2026
Dibuat bersama ChatGPT dengan beberapa perubahan