Rabu, 14 Maret 2012, adalah hari yang tak akan pernah saya lupakan. Hari di mana Allah mengizinkan langkah kecil ini sampai di Raudhah, sebuah tempat yang Rasulullah ﷺ sebut sebagai taman surga di dunia. Saat itu, hati saya bergetar hebat. Air mata jatuh tanpa bisa saya tahan. Betapa bahagianya saya, betapa beruntungnya, bisa sholat di dekat makam Nabi yang begitu saya rindukan selama ini.
Dari Abu Hurairah, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Antara rumahku dan mimbarku adalah di antara taman surga.” (HR. Bukhari no. 1196 dan Muslim no. 1391)
Rasanya seperti mimpi yang akhirnya terwujud. Di tempat itu, sujud terasa berbeda, doa terasa lebih dekat, dan hati benar-benar larut dalam ketenangan. Saya masih ingat, waktu itu suasana masih memungkinkan untuk duduk lama, berdoa lama, dan mengulang-ulang doa dengan penuh harap. Setiap kata yang keluar dari lisan, seakan naik begitu cepat ke langit. Dan saya hanya bisa menangis, memohon kepada Allah, agar kesempatan itu tidak menjadi yang terakhir.
Hingga hari ini, kenangan itu tetap hidup dalam hati saya. Kadang saat rindu menyeruak, ingatan tentang Raudhah kembali hadir, karpet hijau itu, suasana yang syahdu, dan rasa damai yang tak tergantikan. Dan saya berdoa, semoga Allah memberi jalan untuk kembali, lagi dan lagi, hingga napas terakhir saya. Karena tiada yang lebih indah bagi hati ini selain bisa kembali bersujud di taman surga dunia itu, tempat di mana doa-doa begitu dekat dengan langit.
Ya Allah, izinkanlah aku kembali lagi dan lagi ke tempat penuh berkah itu. Jadikanlah setiap sujudku di Raudhah sebagai bekal terbaik untuk perjumpaan dengan-Mu, dan karuniakanlah aku syafaat Nabi-Mu tercinta di hari perhitungan nanti.