AWAL RAMADHAN, SAATNYA MEMULAI KEMBALI BERSAMA AL QUR’AN

Ramadhan baru saja datang. Udara malam pertama terasa berbeda. Masjid kembali ramai. Suara tilawah mulai terdengar lebih sering dari biasanya. Hati pun seolah diberi kesempatan baru untuk hidup kembali. Setiap tahun Ramadhan datang membawa pesan yang sama, namun tidak semua hati menyambutnya dengan rasa yang sama.

Ada yang langsung bersemangat menata ibadah. Ada yang masih terbawa ritme kesibukan dunia. Ada pula yang diam-diam bertanya dalam hati: “Ramadhan tahun ini akankah benar-benar berbeda?”

Di antara semua amalan Ramadhan, ada satu ibadah yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita, Al-Qur’an. Karena Ramadhan bukan sekadar bulan puasa. Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Bulan ketika hati paling mudah disentuh oleh ayat-ayat Allah. Ibnul Jauzi rahimahullah pernah menuliskan kalimat yang dalam maknanya:
“Apabila seorang muslim tidak bisa mengkhatamkan tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadhan (bulan Al-Qur’an), dan tidak pula mengkhatamkannya dalam setahun kecuali jika Allah kehendaki, maka tidak khatamnya itu adalah bentuk menelantarkan Al-Qur’an… yang mengharuskan mengalirnya air mata, untuk mengobati kesedihan dan menghilangkan kelalaian dari dalam hati.” (Shafatus Shafwah 2/473)

Kalimat ini terasa berat, namun justru di situlah letak kasih sayangnya. Beliau tidak sedang menghakimi, tetapi membangunkan hati yang mungkin terlalu lama tertidur. Dan mungkin, di awal Ramadhan inilah waktu terbaik untuk merenungkannya, bukan di akhir ketika waktu sudah hampir habis.

Sering kali kita baru merasa sedih di penghujung Ramadhan:
belum khatam…
belum maksimal…
belum berubah…

Padahal hakikat Ramadhan justru dimulai sejak hari pertama.

Awal Ramadhan adalah:
• waktu menata niat,
• waktu membuat janji pada diri sendiri,
• waktu memulai hubungan baru dengan Al-Qur’an.

Bukan menunggu sempurna, tetapi berani memulai. Karena Allah tidak menuntut kesempurnaan dari kita. Allah hanya melihat kesungguhan langkah pertama.

Para ulama sangat perhatian terhadap khatam Al-Qur’an di Ramadhan. Namun makna terdalamnya bukan sekadar jumlah halaman. Yang lebih penting adalah, apakah hati kita hadir saat membaca, apakah ayat-ayat itu menenangkan jiwa, dan apakah Al-Qur’an mulai terasa sebagai kebutuhan, bukan kewajiban.

Satu halaman dengan hati yang hidup lebih berharga daripada banyak halaman tanpa rasa. Namun tetap, Ramadhan adalah musim terbaik bersama Al-Qur’an. Jika di bulan ini saja kita jauh darinya, lalu di bulan apa lagi kita berharap dekat? Ibnul Jauzi menyebut sesuatu yang jarang dibicarakan, air mata.

Bukan air mata karena dunia. Bukan karena lelah. Tetapi air mata karena merasa lalai dari firman Allah. Air mata seperti ini bukan tanda kelemahan. Ia justru tanda hati yang masih hidup. Karena hati yang benar-benar mati, tidak lagi mampu menangis.

Di awal Ramadhan ini, andai kita belum banyak membaca Al-Qur’an, mungkin yang pertama perlu kita minta bukan kekuatan membaca, tetapi kelembutan hati untuk kembali.

Tidak semua orang mampu langsung membaca banyak. Tidak semua waktu terasa lapang. Tidak semua hati langsung khusyuk. Namun jalan kembali kepada Al-Qur’an tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar.

Mulailah dengan beberapa ayat setelah Subuh, beberapa menit sebelum tidur, dan satu tekad kecil yang dijaga setiap hari. Karena perubahan besar dalam hidup sering kali dimulai dari amal kecil yang istiqamah. Dan siapa tahu, dari langkah sederhana di awal Ramadhan ini, Allah bukakan pintu kedekatan yang belum pernah kita rasakan sebelumnya.

Ramadhan Masih Panjang, Kesempatan Masih Terbuka
Indahnya awal Ramadhan adalah satu hal, waktu masih luas. Belum terlambat memperbaiki niat. Belum terlambat menyusun target. Belum terlambat kembali kepada Al-Qur’an. Yang berbahaya bukan belum sempurna, tetapi tidak mau memulai.

Karena bisa jadi, Ramadhan tahun ini adalah kesempatan terakhir yang Allah berikan, dan kita tidak pernah tahu.

Di awal Ramadhan ini, mungkin kita belum menjadi hamba yang terbaik. Belum menjadi ahli Al-Qur’an. Belum menjadi pribadi yang sepenuhnya berubah. Namun selama hati masih ingin kembali, itu sudah menjadi tanda kebaikan yang besar. Mari jadikan Ramadhan kali ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi titik balik kehidupan bersama Al-Qur’an, In Syaa Allah.

Mulai dari hari ini. Mulai dari ayat pertama. Mulai dari hati yang berkata lirih:
“Ya Allah… dekatkan aku kembali dengan kitab-Mu.”

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang hidup dengan Al-Qur’an di dunia, ditenangkan oleh Al-Qur’an di kubur, dan dimuliakan bersama ahli Al-Qur’an di akhirat. Aamiin.

Wallohualam bishowab
Semarang, 19 Februari 2026
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan