BAHAYA MEMVONIS TANPA ILMU

Setiap manusia punya masa lalu. Tidak jarang, pandangan kita terhadap sesuatu berubah seiring bertambahnya ilmu dan pengalaman. Dulu, aku pernah melihat orang-orang yang berjenggot, memakai celana cingkrang, memakai jubah, selalu sholat lima waktu di masjid, merapatkan kaki saat shalat, tidak bersalaman setelah shalat, tetapi justru mengucapkan salam dan bersalaman ketika bertemu. Para akhwatnya pun memakai cadar. Saat itu, aku menilainya aneh, bahkan menganggap mereka terlalu fanatik terhadap agama.

Bagiku waktu itu, mereka berbeda jauh dari kebiasaan orang-orang pada umumnya. Aku bahkan menjadikannya bahan candaan dan gosip bersama teman-teman. Padahal, aku sama sekali belum tahu ilmunya. Aku hanya menilai dengan mata, dengan ego, dan dengan pikiran yang dangkal.

Namun, setelah Allah ﷻ memberikan hidayah berupa ilmu tentang Sunnah Rasulullah ﷺ, aku tersadar. Ternyata aku keliru. Justru aku yang selama ini terlalu berlebihan dalam mencintai dunia. Aku sibuk mengejar hal-hal yang fana, tetapi merasa aneh ketika melihat ada orang yang sibuk mengejar akhirat. Dulu aku menilai mereka fanatik, kini aku paham bahwa mereka hanya berusaha setia pada ajaran Nabi ﷺ. Dulu aku menganggap mereka kaku, sekarang aku sadar bahwa aku lah yang keras kepala, menolak kebenaran hanya karena tidak sesuai dengan kebiasaan mayoritas.

Memvonis tanpa ilmu adalah sebuah kesalahan besar. Pertama, karena bisa jadi kita menolak kebenaran hanya karena tidak sesuai dengan hawa nafsu kita. Kedua, sikap itu menutup pintu hati kita dari menerima hidayah. Dan yang lebih berbahaya, kita bisa terjerumus ke dalam dosa fitnah karena menyebarkan penilaian salah tentang saudara kita seiman.

Allah ﷻ berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap ucapan dan vonis kita akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga: jangan menilai sesuatu hanya dari pandangan mata atau tradisi kebanyakan orang. Kebenaran bukan diukur dari seberapa banyak orang melakukannya, tapi dari seberapa sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ.

Kini aku sadar, bahwa terlalu cinta dunia justru membuatku buta terhadap kebenaran. Aku takut terlihat “berbeda” di mata manusia, tetapi tidak takut berbeda dengan tuntunan agama. Padahal, ukuran kemuliaan bukanlah penilaian manusia, melainkan ridha Allah ﷻ.

Semoga pengalaman ini menjadi renungan bagi kita semua. Jika dulu kita pernah salah menilai, mari kita perbaiki. Jangan gengsi mengakui kekeliruan. Karena sebaik-baik manusia bukanlah yang tidak pernah salah, melainkan yang mau belajar, mau berubah, dan mau kembali kepada kebenaran ketika mengetahuinya. Mari kita tinggalkan ego, kurangi cinta dunia, dan lebihkan cinta kita pada sunnah Rasulullah ﷺ. Karena di situlah letak kebahagiaan yang hakiki.

Wallohualam bishowab

Semarang, 24 September 2025

Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan