Jangan Biarkan Kepentingan Dunia Membungkam Kebenaran
Di antara nikmat besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada seorang hamba adalah hati yang merdeka dari penghambaan kepada manusia, jiwa yang tidak mudah diperbudak oleh kepentingan dunia, serta keteguhan untuk tetap berdiri di atas kebenaran meskipun tidak selalu menyenangkan semua orang.
Sungguh, tidak semua orang yang terlihat merdeka benar-benar memiliki kebebasan hati.
Ada yang memiliki kedudukan, tetapi takut kehilangan jabatan. Ada yang memiliki ilmu, tetapi enggan menyampaikan kebenaran karena khawatir kehilangan pengikut. Ada pula yang mengetahui suatu kesalahan, tetapi memilih diam bukan karena pertimbangan syariat, melainkan karena takut kehilangan bantuan, hubungan, atau sumber penghidupan.
Maka hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita benar-benar berdiri di atas prinsip agama, ataukah prinsip kita berubah mengikuti kepentingan dan keadaan?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap diri kalian sendiri, ibu bapak, dan kaum kerabat kalian.” (QS. An-Nisa’: 135)
Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak boleh dikorbankan demi kepentingan pribadi, kedekatan, jabatan, ataupun fanatisme kelompok. Kebenaran tetaplah kebenaran, meskipun datang dari orang yang tidak kita sukai. Dan kesalahan tetaplah kesalahan, meskipun dilakukan oleh orang yang kita cintai dan hormati.
Karena itu, bekerjalah, berusahalah, berdaganglah, dan carilah rezeki yang halal untuk menafkahi keluarga. Janganlah kita bermalas-malasan, kemudian menggantungkan kehidupan kepada pemberian orang lain, padahal Allah masih memberikan kesehatan, kemampuan, dan kesempatan untuk bekerja.
Bukan berarti kita harus mengejar kekayaan, kemewahan, atau menjadikan dunia sebagai tujuan kehidupan. Namun, dengan memiliki penghasilan yang halal dan kemandirian ekonomi, kita dapat menunaikan kewajiban kepada keluarga, menjaga kehormatan diri, membantu sesama, dan mendukung dakwah dengan harta yang Allah titipkan kepada kita. Lebih dari itu, agar kita tidak mudah terbelenggu oleh kepentingan manusia, sehingga lebih leluasa menyampaikan al-haq tanpa dibayangi ketakutan kehilangan sumber penghidupan.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Betapa mulianya seorang muslim yang berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya dengan pekerjaan yang halal, menjaga dirinya dari meminta-minta, bahkan mampu membantu orang lain. Namun, jangan sampai setelah Allah memberikan kelapangan rezeki, hati kita justru diperbudak oleh dunia. Jangan sampai harta membuat kita kehilangan kejujuran, jabatan membuat kita kehilangan keadilan, dan kedekatan dengan manusia menjadikan kita rela membenarkan kebatilan. Sebab kemerdekaan hati yang sesungguhnya bukanlah ketika seseorang memiliki banyak harta, melainkan ketika hatinya tidak diperbudak oleh harta tersebut.
Janganlah kita menjadikan dakwah sebagai sarana mencari penghidupan, mengejar popularitas, atau memenuhi ambisi pribadi. Dakwah adalah ibadah yang sangat mulia. Jangan sampai kemuliaannya direndahkan dengan menjadikannya alat untuk memperoleh keuntungan dunia, apalagi sampai mengorbankan prinsip agama demi mempertahankan penghasilan.
Menerima pemberian atau upah yang dibolehkan syariat dalam kegiatan pengajaran agama tidak otomatis tercela. Yang harus dijauhi adalah ketika keuntungan dunia menjadi tujuan utama, sehingga seseorang rela menyembunyikan kebenaran, memutarbalikkan dalil, atau mengorbankan prinsip agama.
Ingatlah, kitalah yang membutuhkan dakwah, bukan dakwah yang membutuhkan kita. Kita membutuhkan ilmu, nasihat, dan bimbingan para ulama agar tetap istiqamah di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih.
Maka jangan sampai seseorang lantang menyampaikan kebenaran ketika tidak memiliki kepentingan, tetapi mendadak kehilangan keberanian ketika kepentingan pribadinya mulai terancam. Jangan sampai kita keras terhadap kesalahan orang yang jauh, tetapi selalu mencari pembenaran terhadap kesalahan orang yang dekat. Dan jangan sampai kecintaan kepada tokoh atau kelompok membuat kita menolak dalil yang sahih dan dipahami dengan benar.
Agama harus menjadi pedoman bagi kepentingan kita, bukan kepentingan kita yang menentukan bagaimana agama dipahami dan diamalkan. Namun, keteguhan prinsip juga harus disertai ilmu, keadilan, hikmah, kesabaran, dan akhlak yang baik. Teguh bukan berarti keras kepala. Berani bukan berarti kasar. Dan menyampaikan kebenaran bukan berarti bebas merendahkan manusia.
Tidak setiap diam menunjukkan ketakutan, sebagaimana tidak setiap perkataan keras menunjukkan keberanian. Ada kalanya seseorang memilih waktu, tempat, dan cara yang tepat untuk menasihati karena mempertimbangkan maslahat dan mafsadat berdasarkan tuntunan syariat. Inilah yang harus kita jaga dalam meniti manhaj Salaf: berpegang teguh kepada dalil, menghormati para ulama, menjauhi fanatisme buta, dan senantiasa bersedia kembali kepada kebenaran ketika mengetahui diri kita keliru.
Nasihat ini sesungguhnya lebih dahulu ditujukan kepada diri kita sendiri. Jangan sampai kita sibuk menuntut orang lain agar teguh berprinsip, sementara diri sendiri belum mampu bersikap adil ketika kepentingan pribadi dipertaruhkan. Jangan sampai kita pandai menasihati manusia, tetapi melupakan keadaan hati sendiri.
Apakah kita masih jujur ketika kejujuran merugikan kepentingan dunia kita? Apakah kita tetap adil ketika orang yang kita cintai melakukan kesalahan? Dan apakah kita bersedia menerima nasihat serta meninggalkan pendapat sendiri ketika dalil yang benar telah jelas?
Sungguh, seseorang yang benar-benar teguh di atas prinsip bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang bersedia tunduk kepada kebenaran dan memperbaiki kesalahannya. Karena itu, bekerjalah untuk mencukupi kehidupan, tetapi jangan jadikan dunia sebagai tujuan kehidupan.
Carilah rezeki agar terjaga kehormatan dan kemandirian, bukan agar hati semakin diperbudak oleh kekayaan. Dukunglah dakwah dengan harta, tenaga, dan kemampuan kita, bukan menjadikan dakwah sebagai alat mengejar kepentingan dunia. Dan sampaikanlah kebenaran karena Allah, bukan karena ingin dipuji, dianggap paling lurus, atau mendapatkan pengikut. Ingatlah bahwa kemandirian ekonomi hanyalah salah satu sebab yang dapat membantu kita menjaga prinsip. Sedangkan keteguhan hati, keberanian, dan istiqamah merupakan karunia serta pertolongan Allah semata.
Pada akhirnya, seluruh usaha kita, baik bekerja, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, berdakwah, maupun membela kebenaran, harus dibangun di atas keikhlasan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan untuk mendapatkan pujian manusia. Bukan untuk memperoleh kedudukan dan popularitas. Bukan pula untuk memenangkan kepentingan pribadi atau kelompok. Melainkan untuk mencari keridhaan Allah, mengharapkan keselamatan di akhirat, dan meraih kenikmatan terbesar yang Allah anugerahkan kepada penghuni surga, yaitu memandang wajah-Nya yang mulia.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ketika penghuni surga telah memasuki surga, Allah menyingkap hijab-Nya, dan tidak ada kenikmatan yang lebih mereka cintai daripada memandang Rabb mereka. (HR. Muslim, no. 181)
Itulah tujuan tertinggi yang semestinya kita harapkan. Sebab suatu hari nanti, jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan, popularitas akan menghilang, dan setiap kita akan berdiri sendiri mempertanggungjawabkan amal di hadapan Allah. Maka janganlah mengorbankan akhirat demi sesuatu yang sementara. Jangan pula menggadaikan prinsip agama demi mempertahankan sesuatu yang kelak pasti kita tinggalkan.
BEBAS BERSIKAP, bukan berarti bebas mengikuti hawa nafsu.
TEGUH BERPRINSIP, bukan berarti keras kepala mempertahankan kesalahan.
Melainkan berani mengikuti kebenaran, bersedia meninggalkan kebatilan, dan senantiasa menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman dengan pemahaman Salafush Shalih.
Semoga Allah memberikan kepada kita rezeki yang halal dan penuh keberkahan, mencukupkan kebutuhan keluarga kita, menjaga hati dari ketergantungan yang tercela kepada manusia, serta memberikan keberanian untuk menyampaikan kebenaran dengan ilmu, hikmah, dan keikhlasan. Semoga Allah menjaga kita agar senantiasa istiqamah di atas manhaj yang mulia ini hingga akhir hayat, memasukkan kita ke dalam surga-Nya, dan menganugerahkan kenikmatan memandang wajah-Nya yang mulia.
Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ’alā dīnik. “Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Wallohualam bishowab
Semarang, 11 Oktober 2026
Dibuat bersama ChatGPT dengan beberapa perubahan