Saudaraku…
Kita hidup di zaman di mana jempol lebih sibuk daripada kaki. Mata lebih sering menatap layar daripada menatap mushaf. Hati lebih cepat terpancing notifikasi daripada terpanggil oleh adzan. Setiap hari kita scroll. Scroll wajah-wajah cantik. Scroll pria-pria mapan. Scroll rumah mewah. Scroll liburan mahal. Scroll pasangan romantis. Dan tanpa sadar, hati kita ikut terseret. Kita mulai membandingkan. Kita mulai merasa kurang. Kita mulai bermimpi, tapi bukan mimpi yang dibangun dengan usaha, melainkan mimpi yang lahir dari tontonan.
Inilah ilusi yang paling halus. Ia tidak terasa seperti racun. Ia terasa seperti hiburan. Padahal perlahan ia menggerogoti syukur, Allohulmusta’an.
Berapa jam sehari kita habiskan untuk scrolling? Satu jam? Dua jam? Lebih? Bayangkan jika waktu itu dipakai untuk membaca Al-Qur’an, untuk menambah skill, untuk olahraga, untuk membaca buku,untuk membangun usaha kecil dan untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga.
Ilusi hanya memberi sensasi dan action memberi hasil. Scroll membuat kita merasa “ikut hidup”. Padahal kita hanya penonton hidup orang lain. Dan semakin lama kita menjadi penonton, semakin kita lupa bahwa kita punya kehidupan sendiri untuk dibangun.
Kita ingin pasangan sempurna. Kita ingin hidup nyaman. Kita ingin dihargai tinggi. Tapi apakah kita sudah membangun diri setinggi tuntutan kita? Media sosial membuat kita mudah menuntut. Padahal realitas menuntut kita untuk berproses. Tidak ada rumah tangga kokoh yang dibangun dari like. Tidak ada karier besar yang lahir dari komentar. Tidak ada kemuliaan yang tumbuh dari rebahan sambil scrolling.
Kemuliaan lahir dari sabar. Dari disiplin. Dari doa yang panjang di sepertiga malam. Dari kerja yang konsisten meski tak ada yang melihat.
Sekarang kita berada di bulan Ramadhan. Bulan di mana Allah membuka pintu rahmat selebar-lebarnya. Bulan di mana pahala dilipatgandakan. Bulan di mana doa lebih mudah menembus langit. Tapi ironisnya, di bulan yang seharusnya kita sibuk memperbaiki hati, justru banyak dari kita tetap sibuk memperhatikan hidup orang lain.
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar. Ramadhan adalah latihan mengendalikan diri. Kalau kita bisa menahan makan dan minum, mengapa kita tidak bisa menahan jempol?
Cobalah mulai hari ini:
• Kurangi scrolling tanpa tujuan.
• Batasi waktu media sosial.
• Unfollow akun yang memicu iri dan gelisah.
• Ganti waktu scroll dengan tilawah.
• Ganti waktu bandingkan diri dengan doa memperbaiki diri.
Karena hati yang terlalu sering melihat dunia, akan sulit merasakan manisnya akhirat.
Saudaraku…
Mimpi itu baik. Tapi mimpi harus disertai langkah. Kalau ingin pasangan baik, jadilah baik. Kalau ingin hidup mapan, bangun skill dan disiplin. Kalau ingin dihormati, perbaiki akhlak. Jangan hanya memvisualisasikan masa depan, tapi tanam benihnya hari ini. Setiap menit yang kita pakai untuk action, lebih berharga daripada satu jam berangan-angan.
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk reset kehidupan:
• Reset niat.
• Reset kebiasaan.
• Reset prioritas.
Mungkin Allah belum memberi yang kita inginkan, karena kita belum menjadi pribadi yang siap menerimanya.
Di bulan ini, perbanyak doa. Mintalah kepada Allah Pasangan yang baik, Rezeki yang halal dan berkah, Hati yang tenang dan masa depan yang terbaik.
Tapi ingat…
Doa tanpa usaha adalah harapan kosong. Usaha tanpa doa adalah kesombongan. Gabungkan keduanya. Bangun diri di siang hari. Menangislah di malam hari. Minta pada Allah dengan rendah hati. Karena yang kita kejar bukan sekadar “hidup terlihat sukses”, tapi hidup yang diridhai.
Sebelum tidur nanti, tanyakan pada diri sendiri:
• Sudah berapa waktu Ramadhan ini terbuang untuk hal yang tak mendekatkan pada Allah?
• Apakah aku lebih sibuk memperbaiki diri atau mengomentari hidup orang lain?
• Apakah aku ingin berubah, atau hanya ingin terlihat berubah?
Saudaraku…
Hidup ini singkat. Ramadhan juga singkat. Kesempatan belum tentu terulang. Jangan habiskan bulan penuh rahmat ini untuk mengejar bayangan. Bangun kenyataanmu. Perbaiki akhlakmu. Kuatkan ibadahmu. Fokus pada kehidupan yang sedang kamu bangun hari ini.
Dan percayalah, ketika kita sibuk memperbaiki diri, Allah akan memperbaiki takdir kita. Semoga Ramadhan ini menjadi titik balik, bukan sekadar bulan yang lewat begitu saja. Aamiin.
Wallohualam bishowab
Semarang, 22 Februari 2026
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan