بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Hari ini hampir semua orang hidup berdampingan dengan telepon genggam. Banyak urusan pekerjaan, komunikasi, pendidikan, bahkan kegiatan belajar agama dilakukan melalui perangkat yang ada di tangan kita tersebut. Teknologi tentu bukan sesuatu yang harus dimusuhi. Melaluinya kita mendapatkan banyak kemudahan. Kajian dapat didengarkan dari mana saja, tulisan para ulama semakin mudah ditemukan, komunikasi menjadi lebih cepat, dan berbagai ilmu yang dahulu sulit dijangkau kini tersedia hanya dalam beberapa sentuhan.
Namun di balik berbagai manfaat tersebut, ada kebiasaan baru yang perlu kita waspadai: ketika kita tidak lagi sekadar menggunakan HP, tetapi perhatian dan waktu kita perlahan mulai dikendalikan olehnya.
Belakangan muncul istilah populer brainrot. Secara harfiah berarti “pembusukan otak”, tetapi istilah ini bukanlah sebuah diagnosis medis. Ia lebih sering digunakan untuk menggambarkan dampak dari kebiasaan mengonsumsi terlalu banyak konten digital yang dangkal, sangat singkat, absurd, atau sekadar menghibur, sehingga seseorang terbiasa dengan sesuatu yang serba cepat dan semakin sulit bertahan pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dan kesabaran.
Dan persoalan ini sebenarnya bukan hanya persoalan Gen Z. Kita sebagai orang tua pun dapat mengalaminya.
1️⃣ KETIKA “SEBENTAR” BERUBAH MENJADI BERJAM-JAM
Barangkali hampir semua dari kita pernah mengalaminya. Awalnya kita membuka telepon hanya untuk melihat satu pesan atau satu informasi. Namun dari sana perhatian berpindah kepada sebuah video, kemudian video berikutnya, berita yang sedang ramai, potongan pertandingan, atau sesuatu yang sedang viral. Tanpa terasa waktu yang semula diniatkan hanya beberapa menit telah menjadi setengah jam, bahkan terkadang lebih lama.
Menariknya, setelah semua itu selesai, belum tentu kita dapat mengingat dengan baik apa yang sebenarnya baru saja kita lihat. Persoalannya tentu bukan semata-mata karena sebuah video berdurasi pendek. Yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan berpindah dari satu rangsangan kepada rangsangan berikutnya tanpa tujuan yang jelas.
Apabila terus dibiarkan, kita dapat semakin terbiasa dengan sesuatu yang serba cepat. Membaca beberapa halaman mulai terasa panjang, mendengarkan pelajaran terasa berat, pekerjaan mudah terputus karena keinginan mengecek HP, dan waktu tenang tanpa layar terasa semakin sulit.
Bahkan sesuatu yang kita lihat berulang kali dapat terbawa ke dalam pikiran ketika sedang membaca Al-Qur’an, berdzikir atau menunaikan shalat. Di sinilah persoalannya mulai menyentuh sesuatu yang lebih penting daripada sekadar konsentrasi.
2️⃣ BUKAN HANYA TENTANG FOKUS, TETAPI JUGA TENTANG HATI DAN WAKTU
Bagi seorang Muslim, perhatian bukanlah sesuatu yang remeh.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan kepada kita akal, mata, telinga, hati dan waktu. Semuanya merupakan nikmat sekaligus amanah.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُول
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)
Karena itu, persoalan penggunaan media sosial seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan berapa jam kita menggunakan HP. Ada pertanyaan yang lebih dalam: Apa yang kita masukkan melalui mata dan telinga selama waktu tersebut, dan apa pengaruhnya terhadap hati kita?
Seseorang mungkin tidak merasa melakukan sesuatu yang buruk. Namun apabila berjam-jam dari umurnya setiap hari habis untuk sesuatu yang tidak memberikan manfaat, bukankah itu juga layak untuk direnungkan?
3️⃣ ISTILAHNYA BARU, TETAPI NASIHAT ISLAM TENTANGNYA SUDAH LAMA
Istilah brainrot mungkin baru dikenal pada zaman kita. Namun Islam sejak dahulu telah mengajarkan seorang Muslim agar tidak membiarkan hidupnya dipenuhi perkara yang sia-sia.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebut salah satu sifat orang beriman:
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 3)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi)
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Maka persoalan sebenarnya bukan pada istilah brainrot itu sendiri. Yang lebih penting adalah bagaimana seorang Muslim memandang umurnya.
Hari yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan. Waktu satu atau dua jam yang setiap hari terlihat kecil, apabila dikumpulkan selama bertahun-tahun, merupakan bagian yang sangat besar dari kehidupan seseorang.
4️⃣ JANGAN TERLALU CEPAT MENYALAHKAN GENERASI MUDA
Ketika membicarakan masalah ini, perhatian biasanya langsung diarahkan kepada Gen Z atau para syabab. Kita sering mendengar keluhan bahwa anak-anak sekarang sulit lepas dari HP, tidak betah membaca, mudah bosan, atau lebih tertarik kepada video pendek daripada pembahasan panjang. Sebagian keluhan tersebut mungkin ada benarnya. Namun sebagai orang tua, kita juga perlu menjadikannya sebagai bahan muhasabah.
Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika ketika makan orang tua memegang HP, ketika berkumpul keluarga masing-masing sibuk dengan layar, atau ketika anak sedang berbicara mata kita masih tertuju kepada telepon, maka akan sulit meminta mereka mempunyai hubungan yang sehat dengan teknologi apabila mereka tidak melihat contohnya dari kita.
Karena itu persoalan brainrot sebaiknya tidak ditempatkan sebagai:
“Masalah anak-anak zaman sekarang.”
Tetapi sebagai:
“Masalah kita bersama di zaman sekarang.”
Dengan cara pandang seperti ini, orang tua tidak hanya menjadi pihak yang melarang, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan.
5️⃣ SETELAH MENGETAHUI MASALAHNYA, APA YANG HARUS DILAKUKAN DAKWAH?
Sampai di sini kita memahami bahwa banjir konten pendek dan kebiasaan menggunakan media sosial tanpa kendali dapat menjadi masalah. Namun pembahasan seharusnya tidak berhenti pada larangan. Ada kenyataan lain yang harus kita hadapi: generasi muda memang sedang berada di dunia digital. Di sanalah mereka berkomunikasi, mencari hiburan, mengikuti perkembangan, bahkan membentuk sebagian cara mereka melihat dunia.
Pada saat yang sama, berbagai pemikiran, gaya hidup, syubhat, kemaksiatan dan perkara sia-sia juga masuk melalui ruang yang sama. Bahkan pihak yang menyebarkannya sering kali sangat memahami cara mendapatkan perhatian generasi muda: bahasanya singkat, desainnya menarik, visualnya kuat dan pesannya mudah dibagikan.
Maka muncul pertanyaan penting bagi para orang tua, pendidik, asatidzah dan penggiat dakwah: Apakah ruang tersebut akan kita tinggalkan hanya karena kita tidak menyukai sebagian dari apa yang ada di dalamnya? Jika orang-orang yang membawa kebaikan meninggalkan ruang digital, ruang tersebut tidak akan menjadi kosong. Orang lain akan mengisinya.
6️⃣ VIDEO PENDEK BUKAN MUSUH DAKWAH
Di sinilah kita perlu membedakan antara media dengan isi media. Video pendek tidak otomatis menjadi brainrot. Poster bukan brainrot. Infografis bukan brainrot. Demikian pula reels dan shorts pada asalnya hanyalah bentuk penyampaian. Yang harus kita tanyakan adalah: Apa yang disampaikan, bagaimana disampaikan, dan ke mana ia membawa orang yang melihatnya?
Seorang pemuda mungkin sedang melihat berbagai konten di teleponnya. Kemudian di antara semuanya muncul nasihat singkat tentang shalat. Ia tertarik, kemudian mencari penjelasan yang sedikit lebih panjang. Dari sana ia menemukan kajian lengkap, lalu mulai mengenal majelis ilmu.
Kita tidak mengetahui dari pintu mana Allah akan memberikan hidayah kepada seseorang. Karena itu, jangan sampai kekhawatiran terhadap brainrot membuat kita salah memahami persoalan sehingga semua bentuk konten pendek dianggap buruk.
7️⃣ KONTEN PENDEK ADALAH PINTU, BUKAN TEMPAT BERHENTI
Di sinilah menurut kami arah dakwah digital perlu diperjelas. Konten singkat sebaiknya tidak dimaksudkan untuk menggantikan kajian, kitab, majelis ilmu atau pembelajaran yang mendalam. Justru ia dapat digunakan sebagai pintu pertama untuk membawa seseorang menuju semua itu.
Seseorang mungkin pertama kali tertarik melalui video 30 detik. Ketertarikan tersebut membawanya kepada penjelasan lima menit. Setelah mulai memahami persoalan, ia bersedia mendengarkan kajian yang lebih lengkap. Dari kajian ia mengenal kitab, dan dari kitab ia mulai memahami bahwa ilmu membutuhkan kesabaran, guru dan proses yang panjang.
Dengan demikian kita tidak sedang menyesuaikan agama dengan budaya brainrot. Justru sebaliknya. Kita menggunakan pintu yang mereka kenal untuk membawa mereka perlahan-lahan keluar dari kebiasaan tersebut. Konten pendek adalah pintunya. Ilmu tetap tujuannya.
8️⃣ YANG DISESUAIKAN ADALAH CARA MENYAMPAIKAN, BUKAN KEBENARANNYA
Prinsip ini perlu dijaga dengan sangat hati-hati. Dakwah boleh dikemas dengan desain yang lebih menarik. Bahasa dapat dibuat lebih sederhana. Video dapat dipersingkat. Judul dapat dibuat menggugah rasa ingin tahu. Namun semua itu tidak boleh mengubah prinsip agama.
- Jangan sampai demi mendapatkan views kita menggunakan sesuatu yang tidak dibenarkan.
- Jangan membuat judul menipu hanya supaya orang membuka konten. Jangan memotong perkataan ulama sehingga berubah maksudnya.
- Jangan menjadikan agama sebagai bahan humor yang menghilangkan kehormatannya.
- Dan jangan membuat kontroversi hanya agar algoritma mengangkat konten kita.
Ada perbedaan yang sangat besar antara:
Masuk ke dunia mereka untuk membawa mereka menuju kebaikan
dengan
masuk ke dunia mereka kemudian ikut hanyut di dalamnya.
Karena itu, yang kita sesuaikan adalah cara menyampaikan, bukan kebenaran yang disampaikan.
9️⃣ JANGAN SAMPAI DAKWAH PUN TERJEBAK OLEH ALGORITMA
Ada bahaya lain yang perlu diwaspadai oleh para penggiat dakwah. Ketika mulai menggunakan media sosial, kita akan berhadapan dengan angka: views, likes, shares, followers dan berbagai ukuran keterlibatan lainnya. Angka tersebut dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana sebuah pesan menjangkau masyarakat. Tetapi ia tidak boleh berubah menjadi tujuan dakwah.
Jangan sampai konten yang sebenarnya perlu disampaikan ditinggalkan karena dianggap tidak akan viral. Jangan pula pembahasan yang sensasional terus dibuat hanya karena menghasilkan banyak penonton. Boleh jadi sebuah nasihat dilihat oleh ribuan orang tetapi berlalu begitu saja. Sebaliknya, boleh jadi hanya satu orang yang benar-benar mengambil manfaat darinya, kemudian Allah mengubah kehidupannya melalui nasihat tersebut.
Algoritma dapat menentukan apa yang muncul di layar. Tetapi algoritma tidak dapat memberikan hidayah. Hidayah hanyalah milik Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
🔟 TIGA HAL YANG PERLU DIJAGA
Di tengah perubahan cara manusia menerima informasi, setidaknya ada tiga perkara yang perlu tetap menjadi pegangan para penggiat dakwah:
① BENAR SUMBERNYA
Apa yang disampaikan harus dibangun di atas ilmu dan rujukan yang benar.
② BAIK CARANYA
Sampaikan dengan hikmah, bahasa yang mudah dipahami, serta kemasan yang sesuai tanpa melanggar syariat dan adab.
③ JELAS TUJUANNYA
Tujuannya bukan sekadar mendapatkan perhatian, tetapi membawa manusia dari perhatian menuju pemahaman, dari pemahaman menuju ilmu, dan dari ilmu menuju amal serta ketaatan.
🌿 JANGAN HANYA MELARANG, HADIRKAN JALAN KELUARNYA
Inilah yang barangkali perlu menjadi renungan kita bersama. Tidak cukup hanya mengatakan kepada generasi muda agar berhenti melihat konten yang tidak bermanfaat. Kita juga perlu menghadirkan sesuatu yang lebih baik untuk mereka temukan. Tidak cukup mengeluhkan bahwa anak muda tidak suka membaca. Kita perlu membantu mereka membangun kembali kebiasaan membaca sedikit demi sedikit. Tidak cukup mengatakan bahwa mereka tidak mampu mengikuti kajian panjang. Kita dapat menemui mereka melalui sesuatu yang mampu mereka cerna hari ini, kemudian perlahan mengajak mereka menuju pembelajaran yang lebih dalam.
Demikian pula di dalam keluarga.
Jangan hanya menetapkan aturan penggunaan HP kepada anak. Bangun pula kebiasaan berbicara bersama, membaca, belajar, menghadiri majelis ilmu, dan menikmati kehidupan tanpa selalu membutuhkan layar. Dengan demikian solusi terhadap brainrot bukan sekadar:
“Kurangi HP.”
Tetapi juga:
“Isi kembali kehidupan dengan sesuatu yang lebih bernilai.”
🌱 PENUTUP
Fenomena brainrot pada akhirnya bukan sekadar pembicaraan tentang media sosial. Ia mengajak kita memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar: Siapa yang menguasai perhatian kita? Ke mana waktu kita pergi? Apa yang setiap hari kita masukkan ke dalam hati? Dan bagi para orang tua serta penggiat dakwah, ada pertanyaan tambahan: Apa yang sedang kita hadirkan sebagai alternatif bagi generasi muda?
Kita tidak harus memusuhi teknologi. Kita juga tidak boleh menyerahkan diri kepada teknologi. Yang kita perlukan adalah kemampuan untuk menempatkannya sebagai alat. Layar tidak akan menggantikan orang tua. Video satu menit tidak akan menggantikan guru. Reels tidak akan menggantikan kitab. Dan media sosial tidak akan menggantikan majelis ilmu.
Namun selama layar tersebut berada di tangan generasi muda, jangan biarkan semua yang masuk melalui layar itu hanya mengajak mereka menjauh dari ilmu dan ketaatan. Jangan membuat dakwah menjadi dangkal agar disukai generasi muda. Namun mudahkanlah pintu menuju ilmu agar mereka mau memasukinya. Kemudian setelah mereka masuk, tuntunlah mereka sedikit demi sedikit menuju ilmu yang lebih dalam.
Zaman boleh berubah. Media boleh berubah. Cara manusia mendapatkan informasi boleh berubah. Tetapi Al-Qur’an dan Sunnah tidak berubah.
Maka tugas kita bukan mengubah agama agar sesuai dengan zaman. Tugas kita adalah menyampaikan agama yang tidak berubah itu dengan hikmah kepada manusia yang hidup pada zaman yang terus berubah. InsyaAllah kita tidak harus memilih antara menjaga kemurnian ilmu atau menjangkau generasi muda. Keduanya dapat berjalan bersama:
- Benar sumbernya.
- Baik caranya.
- Jelas tujuannya.
Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjaga para pemuda kaum Muslimin, menjaga keluarga kita, menjaga akal, waktu dan hati kita, serta menjadikan teknologi yang berada di tangan kita sebagai sarana menuju kebaikan dan ketaatan kepada-Nya.
والله أعلم بالصواب
✍️ Bahan renungan tentang brainrot, keluarga dan dakwah di era digital.
Baca versi slide di IG: https://www.instagram.com/p/DcGK9-wiaY6/?igsh=MWZnem54YW1xY3NoaQ==
Wallohualam bishowab
Semarang, 16 Agustus 2026
Dibuat bersama ChatGPT dengan beberapa perubahan