CAHAYA KEBENARAN DI TENGAH GELAPNYA KESESATAN

Setiap manusia hidup di antara dua jalan, jalan cahaya kebenaran atau jalan gelapnya kesesatan. Allah Ta’ala menggambarkan hal ini dalam firman-Nya,

“Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindung mereka ialah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Al-Baqarah: 257)

Iman itu cahaya, sedangkan kekufuran dan maksiat adalah kegelapan. Seseorang yang terbiasa hidup dalam kegelapan kesalahan dan hawa nafsu akan merasa terganggu ketika cahaya kebenaran datang. Ia merasa asing, bahkan menolak karena cahaya itu mengungkapkan kesalahannya.

Hati yang tertutup oleh maksiat akan sulit menerima nasihat. Dosa itu melahirkan dosa yang lain, hingga hati menjadi gelap. Jika hati semakin gelap, maka sulit baginya membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Inilah sebabnya, orang yang sudah terbiasa dengan kesesatan akan merasa terganggu dengan cahaya kebenaran. Sama halnya dengan orang yang terbiasa berada di ruangan gelap, ketika tiba-tiba datang cahaya terang, matanya akan silau dan merasa tidak nyaman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hati adalah tempat masuknya cahaya hidayah. Jika hati dipenuhi dosa, ia akan sulit menerima cahaya. Tetapi jika hati dijaga dengan dzikir, ilmu, dan amal shalih, maka cahaya iman akan mudah masuk dan menetap. Kebenaran seringkali terasa pahit bagi jiwa yang terbiasa dengan kebatilan. Namun, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk tunduk. Sikap seorang mukmin adalah menerima kebenaran, meski terasa berat bagi nafsunya. Para ulama berkata, “Kebenaran itu tidaklah dikenal dengan manusia, tetapi manusia dikenal dengan kebenaran.”

Jika kita merasa terganggu dengan nasihat, tersinggung dengan kebenaran, atau tidak nyaman dengan aturan Allah, itu tanda hati kita sedang sakit. Maka jangan menolak cahaya itu, tetapi justru dekati dan minta kepada Allah agar hati kita dimudahkan menerima kebenaran.

Cahaya kebenaran mungkin terasa menyilaukan bagi yang terbiasa dalam gelapnya kesesatan. Namun, jika kita sabar, ikhlas, dan mau membuka hati, maka cahaya itu akan menjadi sumber kebahagiaan sejati. Allah Ta’ala berfirman:

Maka jadikanlah hati kita selalu siap menyambut cahaya kebenaran. Sebab, hidup dalam cahaya iman adalah nikmat terbesar yang Allah anugerahkan bagi hamba-Nya.

“Ya Allah, tunjukilah aku kepada kebenaran dari perkara yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.” (HR. Muslim)

Wallohualam bishowab
Semarang, 2 Oktober 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan