DOSA PALING RINGAN DARI RIBA : MENZINAHI IBU KANDUNGNYA!

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Riba memiliki tujuh puluh tiga pintu. Dosa yang paling ringan darinya seperti seseorang yang menzinahi ibu kandungnya sendiri.”
(HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, no. 1859)

Betapa mengerikannya pernyataan Nabi ﷺ ini. Dalam hadits tersebut, Rasulullah menggambarkan betapa besar dan beratnya dosa riba di sisi Allah. Riba bukan hanya satu bentuk dosa, tetapi memiliki 73 pintu, artinya banyak cabang dan bentuknya, dan semuanya mengandung kehancuran moral dan kerusakan sosial.

Bahkan, tingkatan riba yang paling ringan sekalipun disamakan dengan zina dengan ibu kandung sendiri, sebuah perbuatan keji yang secara fitrah, akal sehat, dan agama mana pun sangat tercela dan menjijikkan. Jika itu adalah yang paling ringan, bagaimana dengan bentuk riba yang lebih berat?

Mengapa Riba Sedemikian Besar Dosanya?
• Karena riba menindas orang lemah dan memperkaya yang sudah kaya secara tidak adil.
• Karena riba menghancurkan keadilan dalam ekonomi dan menanamkan kerakusan.
• Karena riba menunjukkan keengganan untuk tolong-menolong dan lebih mengedepankan keuntungan dunia.

Solusi dan Sikap Seorang Muslim
• Jauhi segala bentuk riba, baik dalam transaksi, pinjaman, atau kerja sama yang mengandung bunga.
• Belajar dan pahami fiqih muamalah, agar tidak terjebak dalam sistem riba yang terkadang terselubung.
• Bertobat kepada Allah bila pernah terlibat riba, dan segera berhenti serta ganti dengan cara-cara yang halal.

Jalan keluarnya adalah dengan bertaubat, membersihkan harta, dan hidup dengan sederhana, mencari yang halal, dan menjauhi transaksi yang syubhat.

“Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan gantikan dengan yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad)

Riba: Dosa yang Mengundang Perang dari Allah dan Rasul-Nya

Allah Ta’ala berfirman:

“Jika kalian tidak meninggalkan sisa riba, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 279)

Ayat ini adalah salah satu ancaman paling keras dalam Al-Qur’an. Tidak ada dosa lain yang langsung disebut sebagai tantangan perang terhadap Allah dan Rasul-Nya, kecuali riba.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Ini adalah peringatan paling keras dalam Al-Qur’an terhadap pemakan riba. Karena Allah menyatakan perang terhadapnya, padahal Allah adalah Dzat yang tidak mungkin terkalahkan.”
(Tafsir Ibnu Katsir, QS Al-Baqarah: 279)

Riba bukan hanya salah satu dosa besar, tapi dosa yang bisa menghancurkan umat dan membawa murka Allah secara kolektif.

Maka, meninggalkan riba adalah bentuk kehati-hatian dan ketaatan, bukan kekalahan.
• Tinggalkan seluruh bentuk riba, baik yang terang-terangan maupun terselubung.
• Bertaubat dengan tulus, dan ganti dengan transaksi halal.
• Belajar muamalah sesuai tuntunan Agama Islam, agar hidup lebih berkah dan selamat dari murka Allah.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)

Dalam Islam, mencari rezeki yang halal adalah bagian dari ibadah. Jangan sampai karena mengejar dunia, kita justru menggadaikan akhirat. Semoga Allah menjaga kita dari dosa riba dan segala cabangnya. Jauhkan diri dan keluarga dari jerat riba, karena dunia yang manis tak sebanding dengan kemurkaan Allah.

Wallohualam bishowab

Semarang, 24 Juli 2025

Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan

BACA JUGA:

https://helmi.co.id/bersabarlah-jangan-bermuamalah-dengan-riba/