Wahai saudaraku…
Engkau sama sekali tidak terketuk hatimu untuk berdiri di hadapan Rabbmu di tengah malam. Padahal, malam adalah waktu munajat yang paling agung. Para salaf dahulu bersungguh-sungguh menghidupkan malam dengan air mata dan doa. Engkau? Engkau justru memilih rebah dalam kenikmatan tidur.
Shalat subuh pun engkau lalaikan. Engkau lebih memilih kenyamanan kasur daripada menyambut seruan Rabbmu. Apakah engkau lupa bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh. Seandainya mereka tahu keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Shalat Dhuha yang agung pun engkau lupakan. Padahal, Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai sedekah atas seluruh persendian tubuhmu, dan merupakan amal kebajikan yang dicintai Allah.
Al-Qur’an yang ada di rak-rakmu kian menebal debunya. Engkau tidak pernah menyentuhnya, apalagi merenungi maknanya. Engkau mengabaikan Kalam Rabbmu yang menjadi cahaya bagi hati dan petunjuk dalam kegelapan zaman ini.
Di mana istighfarmu? Di mana shalawatmu kepada Nabi ﷺ? Di mana dzikirmu di waktu pagi dan petang? Engkau biarkan lisannya berceloteh dunia, namun kaku untuk menyebut nama Allah.
Engkau tidak memanfaatkan waktu-waktu mustajab—seperti saat sujud, antara adzan dan iqamah, sepertiga malam terakhir—padahal para salaf dahulu berlomba-lomba untuk menangkap detik-detik mustajab itu dengan doa yang panjang, air mata yang deras, dan keyakinan yang kokoh.
Lantas setelah semuanya engkau lalaikan…
Engkau pun datang mengeluh tentang hidup yang sempit, tentang kegelisahan yang tiada reda, tentang masalah yang bertubi-tubi.
Padahal Allah telah menyebutkan sebab utama sempitnya hati dan hidup:
“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
(QS. Thaha: 124)
Engkau menutup semua pintu jalan keluar, namun berharap solusi dari langit. Engkau mengabaikan dzikir, shalat, Al-Qur’an, dan taubat—padahal itulah jembatan menuju pertolongan Allah.
Wahai saudaraku, kembalilah sebelum terlambat. Jangan sampai engkau menyesal di akhirat nanti ketika semua amal ditimbang, dan engkau menyadari bahwa waktu-waktumu telah habis untuk dunia, bukan untuk Rabbmu. Bangunlah malam-malam sepi untuk menjerit pada-Nya. Rintihlah dalam sujudmu. Pegang kembali mushafmu. Basahkan lisanmu dengan dzikir. Hapus debu hati dengan istighfar.
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di malam hari…”
(HR. Muslim)
Janganlah mengeluh tentang hidup yang berat sebelum engkau benar-benar mengenal Allah dan dekat kepada-Nya. Sebab siapa yang dekat kepada Allah, maka hatinya akan luas meskipun hidupnya sempit. Dan siapa yang jauh dari Allah, maka hidupnya akan sempit meskipun dunia di genggamannya.
Wallohualam bishowab
Semarang, 18 Juli 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan