HAL PERTAMA YANG DIBUNUH OLEH ROKOK ADALAH AKAL

Ada satu kenyataan pahit yang perlu kita akui bersama, rokok bukan hanya merusak paru-paru, tetapi yang pertama kali dirusak dan dibunuh oleh rokok adalah akal. Akal yang harusnya digunakan untuk membedakan mana yang pantas dan tidak pantas, mana yang baik dan buruk, mana yang merugikan diri sendiri dan mana yang merugikan orang lain.

Banyak kita jumpai di sekitar kita orang-orang yang sepertinya tidak menggunakan akal dan pikirannya dengan baik. Di keramaian merokok, tanpa memikirkan bahwa asap rokok yang dia hembuskan ke mana-mana itu bisa masuk ke paru-paru orang lain. Di depan anak-anak merokok, seolah dia lupa asap rokoknya bisa membahayakan anak-anak itu, bahkan mungkin mereka lupa anak-anak itu bisa meniru kebiasaan buruk itu suatu hari nanti. Di ruangan ber-AC, tempat yang seharusnya bersih, malah diracuni oleh asap yang berputar-putar tanpa keluar. Di toilet umum, asap rokoknya membuat ruangan sempit semakin pengap dan tidak nyaman. Dan bahkan di tempat-tempat yang sudah jelas ada papan larangan merokok, tetap saja ada yang merokok “seenaknya sendiri”. Ironisnya, yang tidak merokok pun sering jadi korban, sementara yang merokok merasa bebas tanpa batas.

Ini bukan lagi masalah merokok atau tidak merokok. Ini masalah akhlak. Masalah kepedulian. Masalah akal sehat. Agama Islam melarang kita membahayakan diri dan orang lain. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Rokok adalah benda yang jelas-jelas merusak tubuh, paru-paru, jantung, pembuluh darah, bahkan otak. Merokok berarti sengaja memasukkan kebinasaan ke tubuh sendiri. Ini menyelisihi perintah Allah. Merokok juga bisa membahayakan orang lain. Dan agama Islam juga melarang hal yang demikian, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibn Majah, Malik, Ahmad)

Asap rokok jauh lebih berbahaya bagi orang di sekitar daripada perokok itu sendiri. Inilah bentuk nyata dari madharrah yang sangat dilarang oleh syariat.

Banyak perokok hari ini telah sampai pada tahap asocial kronis. Kebiasaan merokok membuat mereka seperti kehilangan rasa malu dan rasa bersalah. Merokok seakan menjadi aktivitas otomatis, di mana pun, kapan pun, tanpa memikirkan dampaknya pada orang lain. Mereka sepertinya tidak perduli perempuan yang hamil bisa terpapar asapnya, anak-anak bayi dan balita bisa tersengat racunnya, para lansia dan orang sakit bisa semakin parah karenanya dan tentunya orang-orang sehat pun perlahan dirusak tubuhnya oleh asap yang tidak mereka minta. Ini semua karena akal sehat sudah dikalahkan oleh kebiasaan buruk. Padahal akal adalah nikmat terbesar yang membedakan manusia dari hewan. Jika akal sudah rusak, maka seluruh akhlak akan ikut rusak. Akal yang sehat tidak akan menyakiti orang lain demi kesenangan pribadi. Akal yang waras tidak akan mengabaikan aturan yang dibuat untuk kebaikan bersama. Akal yang hidup akan tahu malu, tahu tempat, dan tahu diri.

Karena itu, ini adalah nasehat untuk kita semua perokok maupun bukan perokok.
1. Gunakan akal sebelum menyalakan rokok. Kalau tempatnya tidak pantas, jangan merokok. Sesederhana itu.
2. Hargai orang lain. Tidak semua orang mau menghirup asap yang anda keluarkan. Tidak semua orang sekuat anda. Tidak semua orang sehat seperti anda.
3. Ingat bahwa adab lebih tinggi daripada kebiasaan. Merokok mungkin sudah menjadi kebiasaan, tapi adab adalah cerminan siapa diri anda sebenarnya.
4. Jika anda tidak bisa berhenti, minimal belajarlah untuk tidak mengganggu.

Untuk yang tidak merokok, tetaplah bersuara. Kita punya hak untuk hidup dengan udara bersih. Diam bukan solusi. Tegur jika perlu. Lindungi diri dan keluarga. Indonesia tidak kekurangan ruang rokok. Yang kita kekurangan adalah akal sehat dan rasa malu.

Semoga kita semua, tanpa kecuali, bisa lebih menjaga diri, menjaga adab, dan menjaga hak orang lain. Karena udara bersih adalah hak semua orang. Bukan milik satu dua orang yang ingin merokok “seenak jidatnya sendiri.” Allohulmusta’an.

Dan semoga Allah azza wa jalla memberi taufik kepada kita semua untuk menjaga diri, menghormati orang lain, dan menjauhi apa pun yang membahayakan, aamiin.

Wallohualam bishowab
Semarang, 20 November 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan