Kematian adalah janji Allah yang pasti. Tidak ada satu jiwa pun yang mampu mengelak darinya. Hidup bukanlah tempat untuk bersantai atau menunda-nunda amal. Setiap detik yang berlalu mendekatkan kita kepada akhir perjalanan dunia. Kematian tidak pernah menunggu kesiapan siapa pun, ia datang tepat ketika Allah telah menentukannya, tanpa bisa ditunda walau sesaat.
Allah azza wa jalla memberikan peringatan agar setiap hamba menyadari bahwa waktu adalah amanah. Dunia ini adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen. Siapa yang menunda amal saleh, sesungguhnya ia sedang menunda bekal perjalanannya menuju negeri keabadian.
Sering kali kita berkata dalam hati, “Nanti saja aku mulai shalat tepat waktu,” atau “Besok aku akan memperbaiki akhlakku,” atau “Suatu saat nanti aku akan lebih serius dalam menuntut ilmu.”
Padahal “nanti” itu belum tentu datang. Menunda melakukan amal saleh adalah bentuk kelemahan dan tipu daya setan. Kita merasa bahwa kita masih punya waktu, padahal kematian tidak menunggu.
Setan tidak selalu menggoda manusia dengan maksiat terang-terangan. Kadang ia menipu dengan bisikan halus: “Tenang saja, nanti juga bisa taubat.” atau “Tunggu usia tua, nanti saja memperbanyak amal.”
Menunda kebaikan berarti kita menunda kesempatan untuk mendapatkan pahala, mengundang rahmat, dan mendekat kepada Allah. Setiap hari yang kita biarkan berlalu tanpa amal saleh, sesungguhnya kita sedang kehilangan bagian dari hidup yang tidak akan pernah kembali.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Banyak manusia baru menyadari nilai waktu ketika ajal sudah dekat. Di saat itu, semua harta, jabatan, dan rencana menjadi tidak berguna. Yang tersisa hanyalah amal. Bahkan ketika nyawa sampai di tenggorokan pun, pintu beramala sudah tertutup. Akhirnya yang datang hanyalah penyesalan yang tiada guna.
Berbuat baik tidak harus menunggu besar dan sempurna. Mulailah dari hal kecil, menunaikan shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an setiap hari, membantu orang tua, menyapa dengan senyum, bersedekah walau sedikit, atau menahan lisan dari ghibah. Setiap amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas akan bernilai besar di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun hanya dengan menemui saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim)
Amal saleh bukan hanya sekadar banyaknya aktivitas ibadah, tapi amalan yang benar dan ikhlas, sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Amalan yang ikhlas tapi tidak benar tidak akan diterima. Begitu pula yang benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima. Yang dimaksud ikhlas adalah karena Allah, dan yang dimaksud benar adalah sesuai sunnah. (Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah)
Jika kematian tidak bisa ditunda, maka janganlah kita menunda kebaikan. Jadikan setiap hari kesempatan baru untuk memperbaiki diri dan menambah amal. Karena kita tidak tahu, mungkin hari ini adalah hari terakhir kita bisa melangkah di bumi ini.
“Bersegeralah kalian beramal sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang beriman, di sore hari ia kafir; di sore hari ia beriman, di pagi hari ia kafir. Ia menjual agamanya dengan sedikit dari dunia.”
(HR. Muslim)
“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umur kami di penghujungnya, sebaik-baik amal kami di penutupnya, dan sebaik-baik hari kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu.”
اللهم اختم لنا بخير
Wallohualam bishowab
Semarang, 7 Oktober 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan