Saat itu di bulan Desember, di kota kecil Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur
Ada rasa haru yang dalam ketika mengingat nikmat terbesar dalam hidup ini, hidayah dari Allah. Hidayah itu datang meskipun usia sudah tidak muda lagi. Betapa panjang jalan yang telah kita lalui dalam kelalaian, betapa banyak kesalahan yang pernah dilakukan, namun Allah masih berkenan membimbing hati ini untuk mengenal sunnah.
Sungguh, tidak semua orang diberi kesempatan yang sama. Ada yang meninggalkan dunia dalam keadaan jauh dari tuntunan Nabi ﷺ. Maka ketika Allah bukakan hati ini untuk mengikuti sunnah, rasanya seperti mendapat kehidupan baru. Alhamdulillah, kini bisa beribadah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, bukan sekadar ikut-ikutan tradisi atau kebiasaan tanpa ilmu.
Dulu, hari kelahiran adalah momen pesta, tawa, dan hura-hura. Kita sibuk menerima ucapan selamat, meniup lilin, dan merayakan seolah-olah umur ini bertambah banyak. Padahal hakikatnya, umur kita justru semakin berkurang. Setiap tahun yang berlalu membawa kita semakin dekat dengan kematian, dan semakin jauh dari dunia fana. Astagfirullah wa’atubu ilaih…
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata:
“Setiap tahun yang kalian lalui, akan mendekatkan kalian kepada kuburan setahun, sekaligus menjauhkan kalian dari istana-istana dunia setahun pula.” (Adh-Dhiya’ul Lami’, hlm. 703)
Ulang tahun atau hari kelahiran bukanlah hari yang harus dirayakan, justru mungkin hari untuk bermuhasabah. Momentum untuk bertanya pada diri:
• Apakah tahun lalu kita gunakan dalam ketaatan atau justru kelalaian?
• Apakah amal shalih kita bertambah seiring berkurangnya jatah usia?
• Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang menuju akhirat?
Alhamdulillah, dengan mengenal sunnah, kita mulai meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, termasuk perayaan ulang tahun. Bukan berarti kita menolak rasa syukur atas kehidupan, tetapi kita ingin mengungkapkannya dengan cara yang diridhai Allah, memperbanyak doa, dzikir, amal shalih, dan muhasabah diri.
Daripada meniup lilin dan memotong kue, lebih mulia bila kita menengadahkan tangan, berdoa:
“Ya Allah, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepadaMu, berkahilah sisa kehidupanku, ampunilah dosa-dosaku, dan jadikanlah akhir hidupku husnul khatimah.”
Menjadi pengikut sunnah bukanlah jalan yang mudah. Ada ujian, ada cibiran, bahkan terkadang kita merasa asing. Namun di situlah manisnya iman. Karena kita tahu, tujuan hidup bukanlah mencari pujian manusia, tetapi ridha Allah semata.
Ya Allah…
Engkau yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agamaMu. Jadikanlah kami istiqomah di atas sunnahMu hingga akhir hayat. Ampuni dosa-dosa kami yang lalu, berkahilah sisa umur kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
Wallohualam bishowab
Semarang, 23 September 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan
Baca juga:
https://helmi.co.id/kenapa-harus-merayakan-umur-yang-justru-berkurang/