Konon, tidak ada rasa sakit fisik yang bisa menandingi perihnya seorang ibu ketika melahirkan. Itu saat di mana seorang wanita mempertaruhkan nyawanya untuk menghadirkan kehidupan baru ke dunia. Namun, ada satu rasa sakit lain yang tidak terlihat, tidak berdarah, tapi mampu menusuk jauh lebih dalam, yakni ketika seorang anak membentak ibunya.
Al-Qur’an telah mengingatkan kita tentang beratnya perjuangan ibu, Allah Azza Wa Jalla berfirman:
“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu…” (QS. Luqman: 14)
Dan dalam ayat lain,
“Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Betapa sering kita lupa bahwa ibu yang dulu meninggalkan kenyamanannya, tidurnya, tenangnya, kesehatannya demi kita, masih bisa tersakiti oleh lisan kita sendiri. Kita Lupa, bahwa kita pernah hampir tak bernyawa tanpa doanya, Biidznillah.
Ketika kita kecil, ibu tidak pernah membalas teriakan kita dengan teriakan yang sama. Tidak pernah membalas pemberontakan kita dengan kebencian. Ia hanya diam, menunggu kita tenang, lalu memeluk. Dalam tiap doa malamnya, nama kita selalu disebut. Tapi saat kita dewasa, sedikit saja emosi muncul, kita bisa meninggikan suara. Seolah-olah ibu adalah orang asing yang tidak punya perasaan. Suara yang kita tinggikan itu memukul hati yang dulu rela remuk demi melahirkan kita.
Padahal Allah berfirman dengan sangat tegas:
“Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya ‘ah’, dan jangan membentak mereka…” (QS. Al-Isra’: 23)
Jika sekadar berkata “ah” saja dilarang, apalagi membentak, meninggikan suara, atau membuat hati ibu terluka. Jika ibu tersakiti oleh perkataan anaknya. Jika ibu menangis diam-diam di malam hari karena ucapan anaknya. Maka berhati-hatilah, bisa jadi murka Allah sedang turun kepada kita tanpa kita sadari.
Berapa banyak dari kita yang baru sadar nilai seorang ibu setelah ia tiada?
Berapa banyak yang menangis di pusara, ingin meminta maaf, tapi terlambat?
Ibu tidak meminta kita menjadi orang kaya. Ibu tidak meminta balasan atas semua perjuangannya.
Ibu hanya ingin, kita tidak mengabaikannya, kita berbicara lembut padanya, kita menghargainya, kita tidak melukainya dan kita tidak membentaknya
Lisan adalah senjata. Sekali kita meninggikan suara, luka itu tinggal lama di hatinya. Mereka mungkin diam, tidak membalas, tapi air mata mereka berbicara kepada Allah. Dan ingatlah doa dan air mata seorang ibu adalah hal yang paling cepat dikabulkan oleh Allah.
Perlakukanlah ibu sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh anak-anak kita kelak.
Jika kita hari ini membentak, meremehkan, atau menyakiti, bisa jadi Allah membuat kita merasakan hal yang sama nanti, agar kita belajar.
Selagi pintu bakti masih terbuka, lakukanlah:
• Rendahkan suara ketika bicara padanya.
• Dengarkan dengan sabar keluh-kesahnya.
• Peluk dia sesering mungkin.
• Jangan malu meminta maaf, walau kita merasa benar.
• Jadikan dia prioritas, bukan pilihan.
Kadang ibu terlihat kuat. Kadang terlihat cerewet. Kadang terlihat banyak menasehati. Tapi semua itu berasal dari satu tempat yang paling mulia, cinta. Ia tidak ingin balasan besar. Ia hanya ingin anaknya menjadi orang yang tidak lupa diri.
Sebelum terlambat…
Sebelum menyesal…
Mari kita berbakti dengan sepenuh hati, menjaga lisan, menjaga sikap, dan menjaga perasaan ibu yang telah menjaga kita sejak kita tidak bisa apa-apa.
Wallohualam bishowab
Semarang, 14 November 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan