Kita sering marah melihat korupsi. Namun, jika jujur pada diri sendiri, terkadang kemarahan itu bukan karena perbuatannya yang salah, melainkan karena kita tidak mendapat bagian. Integritas bukanlah soal belum pernah berbuat curang, melainkan sejauh mana kita mampu menolak ketika kesempatan itu terbuka lebar di depan mata.
Banyak orang yang dulunya vokal membela rakyat, saat diberi kursi kekuasaan justru diam, bahkan ikut menindas. Nyatanya, bukan jabatan yang mengubah hati, melainkan hati yang belum siap ketika diberi jabatan.
Kita mencela korupsi pejabat, tetapi tanpa sadar melakukan hal yang serupa dalam bentuk kecil:
• Mengambil uang parkir,
• Korupsi waktu kerja,
• Menggunakan uang kas tanpa izin,
• Menunda kewajiban,
• Memanipulasi laporan,
• Curang dalam arisan,
• Absen palsu.
Korupsi kecil yang dilakukan terus-menerus adalah bibit yang bisa tumbuh menjadi korupsi besar. Jika hari ini kita curang dalam hal sederhana, jangan heran bila suatu hari kita bisa menjadi koruptor besar ketika diberi kekuasaan.
Sering orang mencaci pemimpin yang lalai, padahal dirinya sendiri:
• Bersikap kasar kepada pasangan,
• Lalai terhadap anak,
• Malas bekerja,
• Tidak menjadi teladan di rumah.
Lalu, apa bedanya dengan pemimpin yang ia cela? Sesungguhnya, setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.
Perubahan bangsa tidak lahir dari demo semata, tetapi dari integritas yang dijaga setiap hari. Mulailah dari diri sendiri: dari rumah, meja kerja, parkiran kantor, dan jam kerja. Bangsa besar lahir dari rasa malu yang terpelihara, serta integritas yang dijadikan identitas.
Sudahkah kita menjaga hati sebelum diberi amanah?
Sebab, ujian sesungguhnya bukan ketika kita mengkritik orang lain, tetapi ketika kita sendiri mendapat kesempatan, jabatan, atau kekuasaan.
Semarang, 4 September 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan
Sumber lainnya : @yusib