DUNIA, SEDIKIT DAN SEMENTARA
Ternyata dunia memang hanya segitu. Tak pernah banyak, tak akan pernah cukup. Engkau kejar sejak terbit fajar hingga larut malam, tetap saja terasa kurang.
Hakikat dunia dalam pandangan Agama Islam adalah sedikit, fana, menipu, dan penuh beban pertanggungjawaban.
Allah azza wa jalla berfirman:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan…”
(QS. Al-Hadid: 20)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Dunia itu seperti bayangan; jika engkau kejar, ia akan lari, dan jika engkau berpaling darinya, ia akan datang padamu tanpa kau minta.”
Benarlah…,
yang benar-benar beruntung hanya mereka yang memandang dunia itu kecil. Mereka tidak silau melihat orang lain dengan kelebihan hartanya, tidak merasa hina jika tak punya banyak, dan tidak berat menyerahkan harta yang paling mereka cintai di jalan Allah.
Sesungguhnya hartamu itu hanya tiga:
1️⃣ Apa yang kamu pakai, yang menjadi pakaianmu dan usang di badanmu.
2️⃣ Apa yang kamu makan, yang akan menjadi kotoran.
3️⃣ Apa yang kamu sedekahkan, yang akan kekal menjadi simpanan pahala di sisi Allah.
Selain itu?
Akan kau tinggalkan, diwariskan, dan semua akan ditanyakan pada hari kiamat.
Nabi ﷺ bersabda:
“Anak Adam berkata: ‘Hartaku, hartaku!’ Padahal wahai anak Adam, apakah yang menjadi hartamu selain apa yang engkau makan lalu habis, atau apa yang engkau pakai lalu rusak, atau apa yang engkau sedekahkan lalu engkau simpan (untuk akhirat)?”
(HR. Muslim no. 2958)
Jadikan harta sebagai sarana ketaatan, bukan tujuan hidup dan ingatlah juga bahwa semua yang kau simpan akan ada hisabnya.
Imam Ahmad rahimahullah mengatakan:
“Zuhud adalah meyakini bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih bisa membuatmu tenang daripada apa yang ada di tanganmu.”
Dan Nabi ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.”
(HR. Tirmidzi no. 2417, shahih)
Sebaik-baik harta yang engkau miliki bukan yang kau pamerkan, bukan yang hanya kau tumpuk, tetapi apa yang kau sedekahkan dengan ikhlas, karena itulah yang akan menjadi tabunganmu abadi di sisi Allah.
Wallohualam bishowab
Semarang, 16 Juli 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan