Setiap manusia diberi modal hidup berupa umur. Modal ini sangat terbatas, dan kita tidak tahu kapan habisnya. Itulah sebabnya para ulama sangat memperingatkan tentang waktu, karena waktu sejatinya adalah kehidupan itu sendiri. Ada salah satu nasehat dari salah satu ulama yang berbunyi, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka telah berkuranglah sebagian dari dirimu.”
Kalimat ini begitu dalam maknanya. Kita sering berpikir bahwa santai, malas, atau menghabiskan waktu dengan sia-sia itu gratis. Padahal, yang kita korbankan bukan uang, bukan harta, melainkan umur kita sendiri. Umur yang tidak bisa dibeli kembali dengan apa pun.
“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian. Sebab, kematian memutusmu dari dunia, sedangkan menyia-nyiakan waktu memutusmu dari Allah dan akhirat.” (Ibnul Qayyim rahimahullah)
Betapa besar kerugian orang yang hidup hanya untuk bersenang-senang, tanpa tujuan, tanpa amal shalih. Setiap detik umur kita adalah bagian dari ujian, apakah digunakan untuk ketaatan atau dilalaikan dalam kelalaian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. Tirmidzi, no. 2417, shahih).
Perhatikan, hal pertama yang ditanyakan kelak adalah umur. Itu berarti umur adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Oleh karena itu, para ulama kita begitu menjaga waktunya.
Santai, berleha-leha, atau hidup hanya mengejar kenyamanan dunia bukanlah tanda keberhasilan. Justru itu bisa menjadi bentuk penipuan dari hawa nafsu. Kita sering terbuai dengan anggapan bahwa masih ada banyak waktu. Padahal, kematian datang tiba-tiba, tanpa tanda, tanpa janji.
Janganlah berkata,
Aku akan berbuat baik besok,
Aku akan bertaubat besok,
Tapi sampai maut menjemputnya, dia belum melakukan apa pun.
Inilah bahayanya merasa santai dan tenang dalam kelalaian. Umur kita terbuang sia-sia, sementara bekal akhirat tidak bertambah. Santai sesekali boleh, karena tubuh juga punya hak untuk istirahat. Namun jadikan itu sebagai jeda untuk memperkuat tekad beribadah dan beramal, bukan sebagai gaya hidup.
Maka, mari kita gunakan sisa umur untuk hal-hal yang bermanfaat:
• Memperbanyak ibadah kepada Allah.
• Menuntut ilmu syar’i dan mengamalkannya.
• Menebar manfaat kepada sesama.
• Menjaga diri dari hal-hal sia-sia.
Waktu santai bukanlah gratis. Setiap menit yang terbuang adalah bagian dari umur kita yang menjadi taruhan. Barang siapa yang menggunakannya untuk kebaikan, ia akan beruntung. Dan barang siapa yang menghabiskannya dalam kelalaian, maka ia akan merugi.
“Setiap nafas yang keluar adalah langkah menuju akhir hidupmu. Maka gunakanlah ia untuk mendekat kepada Allah, sebab jika tidak, ia akan berlalu begitu saja tanpa kembali.” (Ibnul Qayyim rahimahullah)
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai menjaga waktu, mengisi umur dengan amal shalih, dan diberi husnul khatimah, aamiin.
Wallohualam bishowab
Semarang, 26 September 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan