INILAH KEHIDUPAN

Manusia lahir lemah, tumbuh dengan kekuatan, lalu kembali lemah menjelang kematian. Inilah sunnatullah yang berlaku pada setiap manusia, tanpa terkecuali. Hidup ini ibarat mimpi, dan kematianlah yang membangunkan manusia dari mimpinya. Dunia hanyalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal yang sebenarnya. (Ibnul Qayyim rahimahullah)

Hidup ini adalah sebuah perjalanan yang dimulai dengan kelemahan dan akan berakhir dengan kelemahan. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa pun, dan kita akan meninggalkannya juga tanpa membawa apa pun. Tidak ada harta, tidak ada gelar, tidak ada jabatan yang bisa kita bawa masuk ke dalam liang lahat. Yang tersisa hanyalah amal kita, apa yang telah kita lakukan selama singgah sebentar di dunia ini.

Sejak awal kita dilahirkan, kita membutuhkan orang lain. Bayi tidak bisa merawat dirinya sendiri. Ia harus dibersihkan, diberi makan, dan dijaga. Demikian pula ketika ajal menjemput, kita akan kembali berada dalam kondisi lemah. Tubuh yang tak berdaya itu harus dimandikan, dikafani, dan dimasukkan ke dalam tanah oleh orang lain. Dari sini kita belajar satu hal, kemandirian sejati manusia adalah ilusi. Sepanjang hidup, kita saling membutuhkan, dan pada akhirnya hanya Allah-lah tempat bergantung yang sesungguhnya.

Harta, jabatan, popularitas, semua adalah titipan. Hari ini kita memilikinya, esok bisa jadi hilang, dan ketika mati, semua itu tertinggal. Tak ada uang yang menyertai kain kafan, tak ada rumah yang bisa ikut masuk ke liang kubur. Yang akan menemani hanyalah amal, shalat kita, sedekah kita, doa-doa yang kita panjatkan, dan amal jariyah yang terus mengalir.

Maka, hidup ini seharusnya tidak kita habiskan untuk mengejar hal-hal fana semata. Dunia hanyalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal abadi. Rasulullah ﷺ mengingatkan, “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari). Kita adalah musafir, dan seorang musafir tidak akan membawa semua barangnya, ia hanya membawa yang penting untuk sampai ke tujuan.

Dunia hanyalah kendaraan menuju akhirat. Pandanglah dunia dengan sikap zuhud, bukan meninggalkan dunia sama sekali, tetapi tidak menjadikannya tujuan. Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utama, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran di depan matanya. Namun barangsiapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan mengumpulkan urusannya dan menjadikan kekayaan di dalam hatinya. (Imam al-Awza’i rahimahullah)

Ketika mengingat mandi pertama dan mandi terakhir kita, seharusnya hati ini bergetar. Saat pertama lahir, seseorang membasuh tubuh kita dengan penuh kasih sayang. Saat terakhir, seseorang akan membasuh tubuh kita yang tak berdaya untuk persiapan menghadap Allah. Antara dua mandi itu, di situlah rentang kehidupan kita. Pertanyaannya: bagaimana kita mengisinya? Apakah hanya untuk mengejar dunia, ataukah kita gunakan untuk menanam bekal akhirat?

Renungan ini mengajarkan kerendahan hati. Tidak ada yang perlu disombongkan. Semua yang kita miliki akan ditanggalkan. Sungguh, hidup hanyalah perjalanan singkat menuju keabadian. Maka marilah kita isi dengan kebaikan, amal shalih, dzikir, ilmu, dan doa. Karena hanya itulah yang akan tetap bersama kita ketika semua orang pergi meninggalkan kita di liang lahat.

Inilah kehidupan. Sebuah perjalanan singkat yang bermula dengan kelemahan, berakhir dengan kelemahan, dan hanya bernilai jika dijalani dengan iman dan amal. Dunia hanyalah singgah sebentar, sementara akhirat adalah tempat tinggal yang abadi.

Maka marilah kita jadikan iman, amal shalih, dzikir, doa, serta sunnah Nabi ﷺ sebagai bekal. Sebab hanya itu yang akan menemani kita setelah mandi terakhir dan ketika semua orang meninggalkan kita di liang lahat. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang bijak, yang mempersiapkan diri untuk hari pertemuan dengan-Nya.

Wallohualam bishowab
Semarang, 2 Oktober 2025
Ditulis bersama chatGPT dengan beberapa perubahan

Baca juga:
https://helmi.co.id/tumbuh-kembang-manusia/